Mantan Pimpinan Perusahaan Pedoman Rakyat Meninggal Dunia
Mantan Pimpinan Perusahaan Harian Pedoman Rakyat, Lamberth Frederik Sahertian (L. F. Sahertian) meninggal dunia di Rumah Sakit Labuang Baji, Makassar, Sabtu, 25 Juli 2009. Almarhum meninggalkan seorang isteri, Anna Sahertian (70), lima anak, serta sejumlah cucu dan cicit.
"Bapak sakit mulai bulan Maret (2009) dan pernah diopname kurang lebih 20 hari di rumah sakit. Sakitnya seperti ada kelainan darah dan juga kurang darah," jelas Anna, kepada Asnawin (pengelola blog ini) di rumah duka Jl. Tamalate 1/Tidung 4, Makassar, Minggu, 26 Juli 2009.
Lamberth dan Anna menikah pada tahun 1976. Dari pernikahan itu, mereka dkaruniai dua anak. Dari perkawinan sebelumnya, almarhum memiliki tiga anak.
Lamberth menjadi karyawan Harian Pedoman Rakyat pada tahun 1979. Sebelumnya, almarhum pernah bekerja sebagai karyawan Harian Tegas.
Di masa mudanya, Lamberth adalah salah seorang atlet andalan Sulsel di cabang olahraga judo.
"Bapak beberapa kali mewakili Sulsel di PON dan di berbagai kejuaraan nasional," jelas Anna.
Abdul Malik, mantan Pimpinan Perusahaan Harian Pedoman Rakyat, mengatakan, selama bekerja di Pedoman Rakyat, almarhum telah menduduki beberapa jabatan, mulai dari tata usaha, keuangan, hingga pimpinan perusahaan.
Sabtu, 25 Juli 2009
Kamis, 05 Juni 2008
Ternyata Tidak Mudah
Ketika tertumbuk pada satu persoalan
Aku ingin segera melakukan perubahan
Tetapi ternyata tidak mudah
Karena melakukan perubahan butuh keberanian
Senin, 19 Mei 2008
Jangan Jadi Wartawan
Jadilah wartawan karena minat, bakat, dan niat yang baik
Jadilah wartawan cerdas dan punya obsesi
Jadilah wartawan profesional
Jadilah wartawan yang disegani dan dihormati
Rabu, 14 Mei 2008
Tanpa Kata-kata
Tanpa Kata-kata
(Buat Kakanda Putra Jaya)
Karya : Asnawin
Seorang pemuda setengah pengangguran
Menemui seorang pengusaha media
Di sebuah warung kopi
Mereka pun asyik ngobrol
Tertawa-tawa
Bersama beberapa orang dalam satu meja
Menjelang magrib
Sang pengusaha media pamit
Dia diantar beberapa orang
Si pemuda setengah pengangguran
Hanya menyalami sambil tersenyum
Lalu duduk kembali di kursinya
Tak lama kemudian
Seorang pemuda berbadan tegap
Mendatangi si pemuda pengangguran
Sambil tersenyum tangannya langsung bekerja
Menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribu
Ke kantong si pemuda dan langsung pergi tanpa kata-kata
Jakarta, 15 Mei 2008
(Buat Kakanda Putra Jaya)
Karya : Asnawin
Seorang pemuda setengah pengangguran
Menemui seorang pengusaha media
Di sebuah warung kopi
Mereka pun asyik ngobrol
Tertawa-tawa
Bersama beberapa orang dalam satu meja
Menjelang magrib
Sang pengusaha media pamit
Dia diantar beberapa orang
Si pemuda setengah pengangguran
Hanya menyalami sambil tersenyum
Lalu duduk kembali di kursinya
Tak lama kemudian
Seorang pemuda berbadan tegap
Mendatangi si pemuda pengangguran
Sambil tersenyum tangannya langsung bekerja
Menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribu
Ke kantong si pemuda dan langsung pergi tanpa kata-kata
Jakarta, 15 Mei 2008
Kepekaan
Kepekaan
Karya : Asnawin
Seorang perempuan setengah baya
Duduk di tepi jalan raya depan hotel berbintang
Pakaiannya lusuh
Rambutnya acak-acakan
Di pangkuannya ada seorang bayi perempuan
Sedang tidur
Lelap
Di depan kedua perempuan itu
Tergeletak sebuah mangkok
Beberapa recehan dan lembar seribuan terlihat di sana
Seorang lelaki setengah baya
Berjalan melewati kedua perempuan itu
Pakaiannya bersih dan rapi
Rambutnya tersisir rapi
Di tangan kirinya terjinjing tas hitam
Tangan kanan memegang handphone
Dia asyik berbicara entah dengan siapa di balik telepon
Sambil tertawa-tawa
Dia berlalu begitu saja
Seolah tak melihat keberadaan kedua perempuan itu
Jakarta, 15 Mei 2008
Karya : Asnawin
Seorang perempuan setengah baya
Duduk di tepi jalan raya depan hotel berbintang
Pakaiannya lusuh
Rambutnya acak-acakan
Di pangkuannya ada seorang bayi perempuan
Sedang tidur
Lelap
Di depan kedua perempuan itu
Tergeletak sebuah mangkok
Beberapa recehan dan lembar seribuan terlihat di sana
Seorang lelaki setengah baya
Berjalan melewati kedua perempuan itu
Pakaiannya bersih dan rapi
Rambutnya tersisir rapi
Di tangan kirinya terjinjing tas hitam
Tangan kanan memegang handphone
Dia asyik berbicara entah dengan siapa di balik telepon
Sambil tertawa-tawa
Dia berlalu begitu saja
Seolah tak melihat keberadaan kedua perempuan itu
Jakarta, 15 Mei 2008
Minggu, 30 Desember 2007
Aku Tidak Mau Terjatuh
Aku Tidak Mau Terjatuh
Karya : Asnawin
Ranting tua itu hampir patah
Badanku terlalu berat baginya
Sudah terlalu lama aku bergelantungan
Kakiku sudah hampir mencapai tanah
Aku harus pindah ke ranting lain
Aku tidak mau terjatuh
Karena tanah di bawah sana becek
Karena tanah di bawah sana bau
Karena tanah di bawah sana berlumpur
Makassar, 9 November 2007
Karya : Asnawin
Ranting tua itu hampir patah
Badanku terlalu berat baginya
Sudah terlalu lama aku bergelantungan
Kakiku sudah hampir mencapai tanah
Aku harus pindah ke ranting lain
Aku tidak mau terjatuh
Karena tanah di bawah sana becek
Karena tanah di bawah sana bau
Karena tanah di bawah sana berlumpur
Makassar, 9 November 2007
Langganan:
Postingan (Atom)

