Selasa, 22 Desember 2009

Wartawan Foto Senior Meninggal Dunia



Wartawan Foto Senior Meninggal Dunia

Oleh: Asnawin
(Mantan Wartawan Pedoman Rakyat)


Wartawan foto senior Boet Philipe Manuel Rompas atau lebih dikenal dengan nama Buce Rompas, meninggal dunia di Makassar, Rabu, 4 November 2009, dalam usia 77 tahun.

Buce Rompas adalah mantan Kepala Cabang Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) di Makassar untuk Indonesia Timur dan mantan redaktur foto surat kabar harian Pedoman Rakyat (terbit di Makassar sejak 1 Maret 1947). Almarhum yang telah menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak 1959, juga tetap setia dan aktif di PWI Cabang Sulawesi Selatan hingga akhir hayatnya.

Buce Rompas yang namanya sering disingkat B.Ph.M.Rompas, meniti karier wartawan pada tahun 1955 di majalah IPPHOS Report, Jakarta. Empat tahun kemudian, ia dipindahkan ke Makassar. Tahun 1963, Buce berhenti di IPPHOS, lalu menjadi wartawan freelance (wartawan lepas).

Tak lama setelah keluar dari IPPHOS dan masih di tahun 1963, Buce tercatat sebagai anggota redaksi majalah Hasanuddin yang diterbitkan Dinas Penerangan Kodam XIV Sulselra. Melalui majalah itu, Buce Rompas pun kian dekat dengan kalangan pemerintah dan militer.

Dua tahun sebelum keluar dari IPPHOS, atau tepatnya tahun 1960, Buce memang sudah membantu harian Pedoman Rakyat, karena dia cukup dekat dengan pemimpin umum harian Pedoman Rakyat, L E Manuhua. Buce baru resmi menjadi wartawan harian Pedoman Rakyat pada tahun 1975.

M. Jusuf dan Kahar Muzakkar

Sebagai wartawan foto senior dan maĆ­z kurang saingan ketika itu, Buce Rompas cukup beruntung, karena dapat meliput berbagai peristiwa yang cukup monumental di Sulawesi Selatan.

Buce misalnya meliput peristiwa DI/TII, Republik Maluku Selatan, serta mengabadikan peristiwa penyerahan tokoh Permesta Mayor Dee Gerungan di sebuah lereng pedalaman di Sulawesi.

Dia juga menjadi satu-satunya wartawan yang ikut pertemuan antara pemimpin DI/TII, Kahar Muzakkar dengan almarhum Jenderal M Jusuf yang kala itu menjabat Panglima Kodam XIV berpangkat Kolonel. Pertemuan itu dilaksanakan di Bonepute, Luwu, yang kemudian dikenal sebagai Perjanjian Bonepute.

Jusuf berencana mengabadikan pertemuan itu, meski sebelumnya ada kesepakatan tak mengikutkan wartawan. Maka Buce Rompas pun disusupkan dengan cara memakaikan seragam tentara lengkap, tetapi di dalam tasnya ada tape recorder besar dan tustel yang di belakangnya terdapat tulisan IPPHOS.

Sayangnya, hasil jepretannya ketika itu kurang bagus karena ia terlalu khawatir ketahuan, padahal ketika Kahar Muzakkar mengetahui bahwa Buce Rompas adalah seorang wartawan karena ada tulisan IPPHOS di belakang kameranya, ternyata Kahar Muzakkar tidak marah.

Kahar Muzakkar malah menanyakan kabar Frans Mendur dan Buce Rompas pun menjawab bahwa Frans Mendur (pemimpin umum IPPHOS) ada di Jakarta dan baik-baik saja.

Frans Mendur adalah salah seorang wartawan yang mengabadikan pengibaran Merah-Putih pada proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, di Jakarta. Frans Mendur berkenalan dengan Kahar Muzakkar di Yogyakarta pada masa revolusi.

Merobek Foto

Secara pribadi, penulis mengenal almarhum pada tahun 1992 ketika mendaftar sebagai calon wartawan harian Pedoman Rakyat. Pembawaannya tenang dan murah senyum.

Penulis diterima sebagai wartawan tulis, tetapi punya minat besar juga menggeluti jurnalistik foto. Maka penulis pun membeli sebuah kamera murahan. Buce Rompas pun sering mengajari cara mengambil gambar yang bagus dan memilih momen yang tepat untuk mengambil gambar.

Tak hanya itu, almarhum juga mengajarkan teknik memilih foto yang baik untuk dimuat di koran, serta cara menampatkan foto di halaman koran. Waktu itu, Pedoman Rakyat masih menggunakan teknologi lama, yakni berita dan foto diprint lalu ditempel sebelum dicetak.

Salah satu pengalaman yang sulit terlupakan yaitu ketika suatu hari beberapa foto yang penulis anggap bagus untuk dimuat, ternyata langsung disobek dan dibuang di tong sampah oleh almarhum Buce Rompas.

Tentu saja penulis marah dan sakit hati. Sudah lelah setelah seharian meliput dan mencuci foto (waktu itu harian Pedoman Rakyat belum memiliki tustel digital), malah hasil jepretan langsung disobek.

Belakangan barulah terasa bahwa Buce Rompas sebenarnya ingin mendidik dan memberi motivasi. Hasilnya, penulis kemudian menjadi fotografer yang cukup dikenal di kalangan wartawan bahkan menjadi instruktur foto jurnalistik PWI Cabang Sulawesi Selatan, setelah mengikuti Penataran Foto Jurnalistik tingkat nasional di Makassar pada tahun 1997.

Pengalaman lain bersama almarhum yaitu ketika harian Pedoman Rakyat merayakan ulang tahunnya belasan tahun silam. Salah satu kegiatan yang diadakan yaitu Lomba Foto Jurnalistik. Hasilnya tidak ada juara satu. Yang ada hanya juara II dan III.

’’Tidak ada foto yang layak untuk jadi juara I,’’ kata Buce Rompas ketika itu.

Suami dari Lily Elisabeth (pensiunan Guru Besar Bahasa Inggris Universitas Negeri Makassar) itu sering mengingatkan bahwa wartawan foto juga harus mampu menulis berita, karena mereka tidak layak disebut sebagai wartawan kalau tak mampu menulis berita.

Selamat Jalan

Kini Buce Rompas telah tiada. Sebagai murid, sebagai wartawan, dan sebagai pengurus PWI Cabang Sulawesi Selatan, penulis hanya bisa mengucapkan selamat jalan kepada almarhum Buce Rompas. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya dan memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Makassar, 5 November 2009

Sumber data & informasi :
- Pergaulan selama belasan tahun bersama almarhum Buce Rompas di Pedoman Rakyat
- Harian Fajar Makassar, 14 September 2008
- Kredit foto Harian Fajar

Keterangan: artikel ini diambil dari blog Pedoman Rakyat (pedomanrakyat.blogspot.com) pada 23 Desember 2009.

Sabtu, 25 Juli 2009

Mantan Pimpinan Perusahaan Pedoman Rakyat Meninggal Dunia

Mantan Pimpinan Perusahaan Pedoman Rakyat Meninggal Dunia

Mantan Pimpinan Perusahaan Harian Pedoman Rakyat, Lamberth Frederik Sahertian (L. F. Sahertian) meninggal dunia di Rumah Sakit Labuang Baji, Makassar, Sabtu, 25 Juli 2009. Almarhum meninggalkan seorang isteri, Anna Sahertian (70), lima anak, serta sejumlah cucu dan cicit.

"Bapak sakit mulai bulan Maret (2009) dan pernah diopname kurang lebih 20 hari di rumah sakit. Sakitnya seperti ada kelainan darah dan juga kurang darah," jelas Anna, kepada Asnawin (pengelola blog ini) di rumah duka Jl. Tamalate 1/Tidung 4, Makassar, Minggu, 26 Juli 2009.

Lamberth dan Anna menikah pada tahun 1976. Dari pernikahan itu, mereka dkaruniai dua anak. Dari perkawinan sebelumnya, almarhum memiliki tiga anak.

Lamberth menjadi karyawan Harian Pedoman Rakyat pada tahun 1979. Sebelumnya, almarhum pernah bekerja sebagai karyawan Harian Tegas.

Di masa mudanya, Lamberth adalah salah seorang atlet andalan Sulsel di cabang olahraga judo.

"Bapak beberapa kali mewakili Sulsel di PON dan di berbagai kejuaraan nasional," jelas Anna.

Abdul Malik, mantan Pimpinan Perusahaan Harian Pedoman Rakyat, mengatakan, selama bekerja di Pedoman Rakyat, almarhum telah menduduki beberapa jabatan, mulai dari tata usaha, keuangan, hingga pimpinan perusahaan.

Kamis, 05 Juni 2008

Ternyata Tidak Mudah


Ketika tertumbuk pada satu persoalan
Aku ingin segera melakukan perubahan
Tetapi ternyata tidak mudah
Karena melakukan perubahan butuh keberanian

Senin, 19 Mei 2008

Jangan Jadi Wartawan



Jadilah wartawan karena minat, bakat, dan niat yang baik
Jadilah wartawan cerdas dan punya obsesi
Jadilah wartawan profesional
Jadilah wartawan yang disegani dan dihormati

Rabu, 14 Mei 2008

Tanpa Kata-kata

Tanpa Kata-kata
(Buat Kakanda Putra Jaya)

Karya : Asnawin

Seorang pemuda setengah pengangguran
Menemui seorang pengusaha media
Di sebuah warung kopi
Mereka pun asyik ngobrol
Tertawa-tawa
Bersama beberapa orang dalam satu meja

Menjelang magrib
Sang pengusaha media pamit
Dia diantar beberapa orang
Si pemuda setengah pengangguran
Hanya menyalami sambil tersenyum
Lalu duduk kembali di kursinya

Tak lama kemudian
Seorang pemuda berbadan tegap
Mendatangi si pemuda pengangguran
Sambil tersenyum tangannya langsung bekerja
Menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribu
Ke kantong si pemuda dan langsung pergi tanpa kata-kata

Jakarta, 15 Mei 2008

Kepekaan

Kepekaan

Karya : Asnawin

Seorang perempuan setengah baya
Duduk di tepi jalan raya depan hotel berbintang
Pakaiannya lusuh
Rambutnya acak-acakan
Di pangkuannya ada seorang bayi perempuan
Sedang tidur
Lelap
Di depan kedua perempuan itu
Tergeletak sebuah mangkok
Beberapa recehan dan lembar seribuan terlihat di sana

Seorang lelaki setengah baya
Berjalan melewati kedua perempuan itu
Pakaiannya bersih dan rapi
Rambutnya tersisir rapi
Di tangan kirinya terjinjing tas hitam
Tangan kanan memegang handphone
Dia asyik berbicara entah dengan siapa di balik telepon
Sambil tertawa-tawa
Dia berlalu begitu saja
Seolah tak melihat keberadaan kedua perempuan itu

Jakarta, 15 Mei 2008