Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Dahlan Kadir Ketua SPS Sulsel 2010-2014

Dahlan Kadir Ketua SPS Sulsel 2010-2014

Makassar, 30 Juni 2010

Pemimpin Redaksi SKU Tegas, M Dahlan Kadir terpilih sebagai Ketua Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Cabang Sulawesi Selatan periode 2010-2014 menggantikan Putra Jaya (tabloid Demos) pada acara Musyawarah Cabang di Hotel Makassar Golden, Makassar, Rabu, 30 Juni 2010.

Dalam kepengurusan tersebut, Dahlan Kadir didampingi Wakil Ketua Mustawa Nur (harian Beritakota Makassar) dan Yonathan Mandiangan (tabloid mingguan Eksis), Sekretaris Mahmud Sally (majalah Akselerasi), Wakil Sekretaris Subhan Yusuf (harian Ujungpandang Ekspres), Bendahara A Heri Moein (SKU Makassar Press), dan Wakil Bendahara M Alie (Majalah Karya).

Musyawarah juga memilih Putra Jaya (tabloid Demos / mantan ketua SPS Sulsel) dan Agus Salim Alwi Hamu (harian Fajar) sebagai Dewan Pertimbangan.

Musyawarah Cabang SPS Sulsel yang dihadiri Sekjen SPS Pusat Sukardi Darmawan, dan Direktur Eksekutif SPS Pusat Aswono Wikan itu dirangkaikan acara Lokakarya Manajemen Pers yang …

Pemimpi(n)

Selain soal tahta kerajaan, Sang Raja juga gundah karena banyak masalah yang perlu diatasi dalam pemerintahan. Ada kasus bank sentral kerajaan, dan ada permintaan dana aspirasi yang jumlahnya cukup besar dari beberapa anggota parlemen kerajaan. (int)

Mutasi

‘’Sebenarnya ada aturan yang jelas, termasuk periode atau lamanya seseorang menduduki jabatan tertentu, tetapi aturan itu kemudian hanya disimpan di dalam laci. Raja yang berkuasa beberapa ratus tahun kemudian, dapat mempromosikan, mentransfer, atau mendemosikan seseorang sesuai keinginan dan kepentingannya. Tidak ada lagi aturan yang jelas, bahkan seseorang yang menduduki jabatan tertentu dapat diganti kapan saja, tergantung keinginan raja.’’

Jadilah Wartawan yang Benar

Harian Ujungpandang Ekspres
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=48458
Sabtu, 05-06-2010


Jadilah Wartawan yang Benar

Oleh: Asnawin
(Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel)

Jumlah media massa cetak dan elektronik, serta media online, apalagi kalau dihitung dengan wartawannya dewasa ini mungkin sudah sulit dihitung. Mantan Ketua PWI Pusat, Tarman Azzam pernah mengatakan bahwa jumlah media massa dan jumlah wartawan di Indonesia dewasa ini ''hanya Tuhan yang tahu.''

Perkembangan media massa yang mengikuti kemajuan teknologi informasi dan teknologi komunikasi, juga melaju dengan cepat. Begitu cepatnya, sampai-sampai aturan atau regulasi yang ada pun seolah-olah sudah ketinggalan.

Kode Etik Jurnalistik yang disepakati bersama puluhan organisasi pers pada tahun 2006, serta Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pun tampaknya tidak lagi mampu menampung kebutuhan dan perkembangan yang ada.

Merasa perlu mewadahi dan merangkul media dan ''wartawan model baru'&#…