Rabu, 30 November 2011

Uji Kompetensi Wartawan di Makassar, 7 Tidak Kompeten


UJI KOMPETENSI WARTAWAN. Ketua Dewan Pers, Prof Bagir Manan (kedua dari kanan) didampingi Wakil Ketua PWI Pusat Atal S Depari (kedua dari kiri), Ketua PWI DKI Jaya Kamsul Hasan (paling kiri), dan Ketua PWI Sulsel H Zulkifli Gani Ottoh, memberi pengarahan pada ujian kompetensi wartawan di kampus Universitas Fajar (Unifa), Makassar, Senin, 28 November 2011. (Foto: Idham Ama/Fajar)

Jumat, 11 November 2011

Uji Kompetensi Lahirkan Wartawan Profesional


DISAMBUT. Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh bersama rombongan saat diterima di area tempat pelantikan pengurus PWI Perwakilan Maros, di Aula Taman Wisata Bantimurung Bulusaraung (Babul), Rabu, 9 November 2011. (Foto: Arini/Fajar)

Kamis, 03 November 2011

Usai Ngopi dengan Pangdam, Wartawan Langsung Menembak


Wartawan diajari menembak oleh anggota TNI di markas Yon Kavaleri 10 Serbu Kodam VII Wirabuana, jalan Perintis Kemerdekaan, seusai ngopi bareng Pangdam VII Wirabuana, Mayjen TNI M Nizam. Coffee morning ini, juga dihadiri Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh, puluhan wartawan cetak dan elektronik di Makassar. (Foto: Tribun/Mail)

Jumat, 28 Oktober 2011

Wahai Pemuda, Siapakah Engkau Kini?


Wahai pemuda Indonesia, siapakah engkau kini? Engkaukah yang selalu melakukan aksi unjukrasa secara anarkis, engkaukah yang kini terlibat menjadi pengangguran terdidik, engkaukah yang kini “berselingkuh” dengan birokrat dan politisi mencuri uang negara? Maafkan kalau kami bertanya, karena kami tidak mengenalimu lagi.

Senin, 24 Oktober 2011

Koran PWI Terbit Kembali


Setelah cukup lama tidak terbit, tabloid Koran PWI kembali diterbitkan oleh pengurus PWI Sulsel, yang ditandai dengan acara launching, di Kantor Koran PWI Jl Gunung Merapi 244, Makassar, Sabtu, 22 Oktober 2011. Acara launching yang dirangkaikan dengan Pembentukan Atlet Porwanas XI PWI Sulsel, dihadiri sejumlah wartawan senior, pimpinan media, pengurus dan anggota PWI, serta sejumlah undangan lainnya.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia


Puluhan wartawan melepas jenazah wartawan senior harian Pedoman Rakyat Makassar, George Alexander Wacanno dalam pelepasan secara resmi di Gedung PWI Sulsel, Jl AP Pettarani 31, Makassar, Sabtu, 1 Oktober 2011. Acara pelepasan dipimpin Ketua PWI Sulsel H Zulkifli Gani Ottoh, serta dihadiri sejumlah wartawan senior dan keluarga mendiang Pak Alex-sapaan akrab George Alexander Wacanno. (foto: asnawin)

Jumat, 23 September 2011

Sekolah Jurnalisme Indonesia di Makassar




KETUA PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh mengatakan, PWI Sulsel akan melaksanakan Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) angkatan pertama, di Makassar, November 2011. Selanjutnya SJI angkatan kedua digelar 2012. SJI terbuka bagi wartawan muda yang ingin mengembangkan diri dan bercita-cita menjadi wartawan profesional. (Foto: Asnawin)

Kamis, 15 September 2011

Pelatihan Wartawan Kesehatan Seksual dan Reproduksi




Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) bekerjasama Amnesty Internasional, akan mengadakan Pelatihan Wartawan Kesehatan Seksual dan Reproduksi, di Makassar, 7-10 November 2011. Peserta pelatihan diharapkan berasal media cetak dan media elektronik di Sulsel.


Kamis, 08 September 2011

Indonesia Tak Butuh Kalender Hijriah

 
Pemerintah Indonesia juga tidak butuh Kalender Hijriah, karena kalender Hijriah dibuat berdasarkan hisab (perhitungan matematis), sedangkan pemerintah Indonesia bersama sejumlah Ormas Islam di negara kita, tidak memercayai cara hisab dan lebih memilih cara rukyat (melihat bulan), terutama dalam menentukan awal bulan Ramadhan, awal bulan Syawal, dan awal bulan Dzulhijjah (berkaitan dengan Hari Raya Idul Adha).

Senin, 15 Agustus 2011

Pengusaha Otobus Makassar Ancam Mogok Massal

CURHAT. Rahman Pina (ujung kiri) menerima aspirasi pengusaha angkutan yang dipimpin Rifai Manangkasi (duduk di samping Rahman Pina) mendatangi kantor DPRD Kota Makassar, Senin 15 Agustus 2011. Seluruh pengusaha otobus di Makassar mengancam akan melakukan mogok massal menjelang Lebaran karena merasa dirugikan dengan kebijakan Pemerintah Kota Makassar yang mengeluarkan kebijakan naik-turun penumpang. (Foto: Jumain Sulaiman/Fajar)  

Kamis, 11 Agustus 2011

Nazaruddin, Wartawan, dan Media Massa

Melalui sikap yang skeptis, kebenaran itu dicari untuk kemudian dinyatakan atau diberitakan tanpa ragu. Dengan kata lain, wartawan harus selalu meragukan informasi awal yang diterimanya, agar tidak ragu-ragu dalam menyampaikan berita.  

Minggu, 07 Agustus 2011

REI Sulsel Bantu PWI Bangun Masjid Wartawan


Pengurus Real Estat Indonesia (REI) cabang Sulawesi Selatan pada Ramadhan 1432 Hijriah memberikan bantuan pembangunan masjid kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel. Tak hanya itu beberapa pengusaha lain, juga turut membantu, seperti ketua Kadin Sulsel, Zulkarnaen Arief, membantu besi dan semen, kemudian Endong Patompo bantu semen, Idris Manggabarani dan pengusaha lainnya berupa cat.

Jaksa Masih Dalami Kasus Penistaan PWI


Anggota PWI Sulsel, Burhanuddin Amin, terancam dihukum penjara satu tahun empat bulan. Itu jika pasal 310 KUH Pidana yang dijerat kepolisian terhadap pelaku penistaan lembaga PWI Cabang Sulsel tersebut diterima tim penyidik Kejaksaan Negeri Makassar. Berkas perkara kasus dugaan penistaan organisasi PWI Sulsel masih tertahan di Kejaksaan Negeri Makassar.

Senin, 01 Agustus 2011

Gubernur Melaka Diberi Gelar "Puto Limpo Daeng Mabborong"


Suasana pemberian gelar Puto Limpo Daeng Mabborong kepada Gubernur Melaka Tuan Yang Terutama Tun Datuk Seri Utama Mohd Khalil bin Yaakob, di kawasan adat Ammatowa, Kajang, Bulukumba, Senin, 18 Juli 2011. Puto Limpo Daeng Mabborong memiliki makna sebagai pemimpin pemersatu serta orang yang sangat menghargai budaya serta selalu memelihara gotong royong. (foto:

Jumat, 29 Juli 2011

IKWI PWI Sulsel Rayakan Ultah ke-50


Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) PWI Sulsel merayakan ulang tahun ke-50 IKWI tingkat provinsi Sulsel di Press Club Gedung PWI Sulsel, Jl AP Pettarani 31, Makassar, Kamis, 29 Juli 2011. Acara ultah ditandai pemotongan nasi tumpeng oleh Ketua IKWI PWI Sulsel Nur Ulkiah yang kemudian diserahkan kepada Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh, disaksikan pengurus dan anggota IKWI PWI Sulsel dan IKWI PWI Perwakilan Pinrang, Sidrap, Parepare, Palopo, dan Wajo.

Kamis, 28 Juli 2011

Wartawan Dilatih Bahasa Inggris


Guna meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan tugas keseharian, pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulsel gelar pelatihan khusus Bahasa Inggris. Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Cabang Sulsel sekaligus penanggungjawab kegiatan, Drs H Nur Syamsu Sultan, mengatakan, program ini dikemas dalam Specific English For Journalist.



Wartawan Dilatih Bahasa Inggris
- Zugito: Bentuk Profesionalisme Jurnalis


Harian Ujungpandang Ekspres
Sabtu, 16-07-2011
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=69094

MAKASSAR,UPEKS--Guna meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan tugas keseharian, pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulsel gelar pelatihan khusus Bahasa Inggris. Program ini dikemas dalam Specific English For Journalist. Pelatihan dipusatkan di Sekretarit PWI Cabang Makassar, Jl AP Pettarani. Jumlah peserta yang ikut mencapai 17 peserta. Kemungkinan jumlah tersebut masih akan bertambah.

Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Cabang Sulsel sekaligus penanggungjawab kegiatan, Drs H Nur Syamsu Sultan saat pembukaan pelatihan, Jumat (17/7/2011) mengatakan, kursus Bahasa Inggris merupakan salah satu program kerja yang telah terlaksana.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas atau pengetahuan Bahasa Inggris bagi setiap wartawan. Bahasa Inggris sangat penting dimiliki seorang wartawan. Metode yang dipakai yakni teori dan praktek di lapangan.

"Program ini sangat penting bagi seorang wartawan. Sekarang ini masih banyak wartawan yang sangat kurang pengetahuan Bahasa Inggris. Makanya, kami dari pengurus PWI Cabang Sulsel merealisasikan program ini agar ke depan profesionalisme wartawan semakin ditingkatkan," tandas Nur Syamsu saat pembukaan Pelatihan Khusus Bahasa Inggris Bagi Jurnalis di sekretariat PWI Cabang Sulsel, Jumat (17/7).

Ditanya mengenai lama pelaksanaan, dia menyebutkan, kegiatan tingkat dasar ini digelar selama dua bulan.
Sementara itu, Ketua PWI Cabang Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh dalam sambutannya mengatakan, sangat bersyukur atas terlaksananya kegiatan ini.

Mantan Ketua KPU Makassar ini mengakui, kualitas bahasa Inggris wartawan masih sangat terbatas. Menurutnya, kegiatan ini merupakan suatu bentuk kepedulian PWI terhadap kualitas wartawan.

Diharapkan dengan adanya pelatihan ini peserta bisa mengaplikasikan di lapangan. Ini juga merupakan antisipasi atau persiapan menghadapi sertifikasi bagi setiap wartawan 2012 mendatang.

Bagian lain yang menjadi penekanan Zulkifli yakni masalah kepuasan mencari ilmu pengetahuan. Dia menjelaskan, seorang wartawan tak perlu merasa puas terhadap apa yang diperoleh selama ini.

"Kalau perlu ke depan kita mencoba mengadakan kursus Bahasa Mandarin," candanya.

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pwi-sulsel.blogspot.com//]

Rabu, 27 Juli 2011

Wartawan Wajib Pahami Kode Etik


BAHAS WARTAWAN. Tokoh pers Sulsel H Syamsu Nur (kiri), Sekprov Sulsel Andi Muallim (tengah), dan Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh hadir pada Lokakarya Orientasi Kewaspadaan Nasional (Orpadnas) NKRI, yang dihadiri ratusan wartawan dan berbagai elemen masyarakat, di Gedung PWI, Rabu 27 Juli 2011. Turut hadir, mantan Gubernur Sulsel H Andi Oddang, sejumlah wartawan senior, dan tokoh masyarakat keturunan Tionghoa Anton Obey. (Foto: Jumain Sulaiman/Fajar)



Wartawan Wajib Pahami Kode Etik

Harian Fajar, Makassar
Kamis, 28 Juli 2011 |
http://www.fajar.co.id/read-20110728064012-wartawan-wajib-pahami-kode-etik

MAKASSAR, FAJAR -- Maraknya kritik yang ditujukan pada pemberitaan di media dianggap sebagai bagian dari kurangnya pemahaman kode etik oleh sebagian wartawan. Pers sebagai mitra masyarakat dan pemerintah hendaknya membekali diri dengan pengetahuan dan perilaku sesuai standar jurnalistik.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPRD Sulsel HM Roem saat hadir sebagai narasumber dalam Lokakarya Kewaspadaan Nasional yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Aula PWI Rabu, 27 Juli. Acara ini digelar PWI selama dua hari terhitung kemarin untuk membekali para wartawan dengan wawasan kebangsaan. Lokakarya diikuti pemerhati jurnalistik, insan pers serta pengurus dan anggota PWI. Turut hadir sebagai narasumber Sekretaris Provinsi Andi Muallim, perwakilan Pangdam VII Wirabuana serta Kapolda yang diwakili Kabid Humas Chevy Ahmad Sofari. Mereka bergantian menyampaikan pidato didampingi Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh.

Roem nanyak menyinggung peran pers sebagai penyambung hubungan masyarakat dengan pemerintahan. Pers hadir sebagai penyeimbang dalam masyarakat. "Misalnya jika di dewan sedang panas-panasnya, pers hadir untuk mendinginkan situasi," ujarnya.

Pers dan pemerintah memiliki hubungan timbal balik karena saling membutuhkan. Keduanya juga dapat dikatakan setara karena sama-sama bekerja untuk kepentingan masyarakat. Sehingga, perlu dibangun suatu kemitraan yang berlandaskan saling pengertian antara keduanya. "Pemerintahan atau siapapun hendaknya membangun mitra yang baik dengan pers," sambung Roem.

Besarnya peran pers dalam menyampaikan kebenaran pada masyarakat dianggap Roem sebagai suatu tanggung jawab. Makanya diperlukan suatu pemahaman akan tanggung jawab pekerjaannya. Salah satunya dengan memahami aturan dan kode etik dalam bekerja. Kode etik merupakan pegangan agar tidak menyalahi aturan dalam bekerja. Kode etik dalam berbagai pekerjaan sama-sama mengatur bagaimana bertanggung jawab dalam bekerja. "Kita semua, khususnya pers hendaknya berpijak pada landasan yang sama. Pekerjaan tak akan bermakna jika kita menyalahi etika," katanya.

Direktur Utama PT. Media Fajar Syamsu Nur yang turut hadir mengatakan sebagian wartawan belum memahami atau lupa kode etik yang berlaku. Akibatnya banyak pihak yang merasa dirugikan akibat tindakan mereka yang menyalahi aturan.

"Saat ini yang penting adalah bagaimana menegakkan kode etik yang berlaku. Jangan sampai hanya dipahami saja. Tapi tidak diterapkan dalam menulis berita," katanya.

Baginya penegakan kode etik patut dimulai sejak dini dari hal-hal terkecil.

"Termasuk bagaimana berpenampilan yang baik," katanya.

Sekretaris Provinsi Andi Muallim lebih banyak menyinggung seputar kesadaran kebangsaan dan kewaspadaan nasional. Dari atas mimbar ia menjelaskan maraknya ancaman yang datang keutuhan Indonesia. Bagaimana pihak asing membangun grand design untuk memecah Indonesia. Pembalakan hutan, pencurian ikan hingga sengketa batas wilayah.

Untuk mencegah perpecahan warga hendaknya paham bagaimana prinsip-prinsip kebangsaan dan menanamkannya di diri masing-masing. Jangan adal yang lengah sedikitpun, khususnya pers sebagai penjaga," imbau Muallim. (aan/lan)

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pwi-sulsel.blogspot.com//]

Selasa, 31 Mei 2011

Wapemred Tribun Timur akan Terima Penghargaan PWI Sulsel


PENGHARGAAN. Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur Ronald Ngantung akan menerima penghargaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel pada Senin, 6 Juni 2011. Pemberian penghargaan tersebut diberikan atas dedikasinya dalam memberikan pelayanan terbaik, terbuka dalam memberi informasi, dan menjadi teladan bagi wartawan di Sulsel.

--------------

Wapemred Tribun Timur akan Terima Penghargaan PWI Sulsel

Tribunnews.com -
Selasa, 31 Mei 2011
http://www.tribunnews.com/2011/05/31/wapemred-tribun-timur-akan-terima-penghargaan-pwi-sulsel

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur Ronald Ngantung akan menerima penghargaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel pada Senin, 6 Juni 2011.

Pemberian penghargaan tersebut diberikan atas dedikasinya dalam memberikan pelayanan terbaik, terbuka dalam memberi informasi, dan menjadi teladan bagi wartawan di Sulsel.

Penganugerahan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel itu akan diserahkan kepada Ronald pada puncak peringatan HUT PWI ke-65 tanggal 6 Juni nanti di Sekretariat PWI Sulsel, Jl A Petta Rani, Makassar.

"Penganugerahan penghargaan ini merupakan progran kerja PWI Sulsel. Mereka yang diberi penghargaan tersebut merupakan mitra PWI selama ini," kata Sekretaris Panitia HUT PWI Anwar Mahendra dalam rilisnya ke Tribun Timur.

Selain itu, PWI Sulsel juga menganugerahi penghargaan kepada anggota DPRD Sulsel Ajiep Padindang, Ketua Kamar Dagang dan Industri Sulsel Zulkarnaen Arief, dan Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Andi Patabai Pabokori. (*)

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pwi-sulsel.blogspot.com/]

Lima Tokoh Raih Penghargaan PWI Sulsel


ZULKARNAIN ARIEF. Lima tokoh akan mendapat penghargaan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dan HUT ke-65 PWI, di Gedung PWI Sulsel, Jl AP Pettarani 31, Makassar, Senin, 6 Juni 2011. Kelima tokoh itu, Ir H Zulkarnaen Arief (Ketua Kadin Sulsel), Ronald Ngantung (Wapemred Tribun Timur), HA Patabai Pabakori (Kadis Pendidikan Provinsi Sulsel), H Syamsu Nur (tokoh pers Sulsel/mantan Ketua PWI Sulsel), dan Ajiep Padindang (anggota DPRD Sulsel).

--------------

Lima Tokoh Raih Penghargaan PWI Sulsel

Harian Ujungpandang Ekspres
Senin, 30-05-2011
http://www.ujungpandangekspres.com/index.php?option=read&newsid=66669

MAKASSAR, UPEKS---Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulawesi Selatan, dalam memeringati Hari Pers Nasional (HPN) dan HUT ke-65 PWI, pengurus PWI Cabang Sulsel akan memberi penghargaan kepada lima tokoh, pada puncak peringatan HPN 2011 Tingkat Provinsi Sulsel, di Gedung PWI Sulsel, Jl AP Pettarani 31, Makassar, Senin, 6 Juni 2011.

Kelima tokoh itu, Ir H Zulkarnaen Arief (Ketua Kadin Sulsel), Ronald Ngantung (Wapemred Tribun Timur), HA Patabai Pabakori (Kadis Pendidikan Provinsi Sulsel), H Syamsu Nur (tokoh pers Sulsel/mantan Ketua PWI Sulsel), dan Ajiep Padindang (anggota DPRD Sulsel).

Ketua Panitia HPN 2011 dan HUT ke-65 PWI Tingkat Provinsi Sulsel, Rifai Manangkasi didampingi Sekretaris Panitia, M Anwar Mahendra, Minggu (29/5) menjelaskan, penghargaan itu merupakan program PWI Sulsel, untuk mengembangkan profesi kewartawanan kaitan dukungan dalam bentuk kemitraan.

Kelima tokoh itu, kata Rifai, tokoh pilihan yang telah memberikan pelayanan dan keterbukaan akses informasi dan keteladanan kepada wartawan.

Selain penghargaan, pengurus PWI Sulsel juga akan melantik tiga PWI Perwakilan, yakni PWI Perwakilan Wajo, PWI Perwakilan Sidrap, dan PWI Perwakilan Bone.

Kegiatan tersebut rencananya akan dihadiri Ketua PWI Pusat H Margiono, Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo, Ketua DPRD Sulsel H M Roem, serta beberapa bupati/walikota.

"Bagi rekan-rekan wartawan serta pengurus PWI Perwakilan, diminta kehadirannya pada kegiatan tersebut," kata Rifai.

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pwi-sulsel.blogspot.com/]

Jatim Tuan Rumah di Porwanas 2013


PIALA PORWANAS. Rakernas Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI di Kendari telah merekomendasikan Provinsi Jawa Timur sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2013 mendatang. Tampak ketika Ketum PWI Pusat Margiono (kiri) menyerahkan piala bergilir Porwanas kepada Ketua PWI Sumatera Selatan, Oktap Riady pada saat pembukaan Porwanas 2010, di Stadiun Bumi Sriwijaya Palembang, Kamis (4/2/2010). Sebanyak 12 cabang olahraga dan 1.627 atlet mengikuti event tersebut. (FOTO ANTARA/Nila Fu'adi/hp/10)

------------

Jatim Tuan Rumah di Porwanas 2013

Harian Ujungpandang Ekspres
Senin, 30-05-2011
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=66670

MAKASSAR,UPEKS--Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Kendari telah merekomendasikan Provinsi Jawa Timur sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2013 mendatang.

"Dalam pertemun tersebut juga telah ditetapkan 11 cabang Olahraga yang akan diperlombakan di antaranya, sepak bola, tenis, Tenis Meja, Bulu Tangkis, Catur, Bridge, Bowling, Futsal, Billiard, dan Atletik," ungkap H Muchtar, Pengurus SIWO PWI, kepada Upeks.

Sebagai pemegang juara umum, Sulsel pastinya akan berusaha mempertahankan prestasi tersebut, namun demikian PWI berharap para pengurus daerah lainnya bisa lebih berprestasi lagi sehingga kompetisi yang diinginkan bisa lebih maksimal. ()

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pwi-sulsel.blogspot.com/]

Sabtu, 28 Mei 2011

Politeknik Negeri Makassar Gelar Diklat Jurnalistik


DIKLAT JURNALISTIK. Pengurus PWI Sulsel, Asnawin, membawakan materi ''Teknik Penulisan Berita (Straight News dan Feature News) pada Pelatihan Jurnalistik yang diadakan oleh Keluarga Muslim Politeknik Indonesia (Kamupi) Politeknik Negeri Ujungpandang, di Masjid Ulil Al-Baab Kampus Poltek Negeri Ujungpandang, Jl Perintis Kemerdekaan Tamalanrea Km-10, Makassar, Sabtu, 28 Mei 2011. (Foto: ist)

-----------------

Politeknik Negeri Makassar Gelar Diklat Jurnalistik

Makassar, 29 Mei 2011

Keluarga Muslim Politeknik Indonesia (Kamupi) Poltek Negeri Ujungpandang mengadakan Diklat Jurnalistik, di Masjid Ulil Al-Baab Kampus Poltek Negeri Ujungpandang, Jl Perintis Kemerdekaan Tamalanrea Km-10, Makassar, Sabtu, 28 Mei 2011.

Materi yang diberikan pada diklat yang diikuti puluhan peserta itu, antara lain "Teknik Penulisan Berita (Straight News dan Feature News)" yang dibawakan oleh Asnawin dari PWI Sulsel.


Pada dasarnya, kata Asnawin, ada dua model pemberitaan di media massa, yaitu straight news dan feature news.

Straight news biasa juga disebut berita langsung, artinya berita yang langsung mengemukakan fakta atau informasi-informasi penting dari suatu kejadian pada paragraf awal. Unsur 5W + 1H langsung dikemukakan pada awal (alinea pertama hingga alinea kedua).

Lima W dan satu H dimaksud yaitu what (apa), who (siapa), when (kapan), where (dimana), why (mengapa), dan how (bagaimana).

Secara umum, kata Asnawin, pola penyajian straight news menggunakan piramida terbalik, yakni mengutamakan informasi paling penting pada bagian awal pemberitaan, selanjutnya informasi penting dan terbaru, agak penting, kurang penting, hingga informasi yang tidak terlalu penting pada bagian akhir berita.

"Straight news disajikan secara singkat, padat, tetapi jelas. Sebagian besar berita dalam koran harian menggunakan cara penyajian straight news. Itulah sebabnya, wartawan surat kabar atau koran harian, umumnya sangat mahir membuat berita dalam bentuk straight news," papar Asnawin.

Sedangkan feature news atau berita tidak langsung, biasanya diawali dengan kata-kata atau kalimat yang menarik pada paragraf awal, sedangkan unsur 5W + 1H terurai dalam paragraf-paragraf berikutnya.

"Feature news adalah berita yangg ditulis dengan gaya karangan khas atau berita yang di-feature-kan," jelas Asnawin.***

Selasa, 24 Mei 2011

Pengurus PWI Perwakilan Wajo

Pengurus PWI Perwakilan Wajo, Sulawesi Selatan

Pengurus Harian:
Ketua : Andi Heril B (Tabloid Eksis)
Sekretaris : Abdul Rasyid MS (Koran Pembela)
Bendahara : H Rukman Nawawi (Tabloid Pedoman Rakyat)

Dewan Penasehat:
- Drs H Muhammad Baru (Media Sinergi)
- Drs Syamsul Bakhri S (Matahari Timur)
- Mustamin S (Harian Beritakota Makassar)

Sabtu, 30 April 2011

Pembangunan Masjid PWI Sulsel Baru 10 Persen


PONDASI. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Nurul Yasin PWI Sulsel di Jl AP Pettarani 31, Makassar, telah dilakukan pada 8 Desember 2010, tetapi pembangunannya baru dilakukan secara efektif sejak 18 Maret 2011. Sampai akhir April ini, pembangunan masjid ini baru pada tahap pengerjaan pondasi, seperti ketika saya abadikan pada Rabu, 27 April 2011. (Foto: Asnawin)


----------------

Pembangunan Masjid PWI Sulsel Baru 10 Persen
- Sambil Dibangun Sambil Dicarikan Dana


Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Nurul Yasin PWI Sulsel di Jl AP Pettarani 31, Makassar, telah dilakukan pada 8 Desember 2010, tetapi pembangunannya baru dilakukan secara efektif sejak 18 Maret 2011. Selama satu bulan lebih itu, pembangunan masjid ini baru sekitar 10 persen.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Nurul Yasin PWI Sulsel, Mufti Hendrawan, kepada penulis, Rabu, 27 April 2011, mengatakan, pembangunan masjid ini dibagi dalam tiga tahap.

''Tahap pertama pembangunan pondasi dan lantai satu, tahap kedua akan dibangun lantai dua, sedangkan tahap ketiga pembangunan menara masjid,'' kata Mufti didampingi Sekretaris Panitia Irianto Amama, Wakil Sekretaris PWI Sulsel anwar Mahendra, dan pengawas pembangunan masjid Muhammad Saleh Daeng Tinri.

Total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan masjid ditaksir sekitar Rp 1,2 miliar. Dana pembangunan masjid berasal dari sumbangan pemerintah, pengusaha, wartawan, dan masyarakat.

''Masjid ini sambil dibangun sambil dicarikan dana dan bantuan, karena ada juga pengusaha yang menyumbang material. Dana yang ada sebagian besar dipakai untuk bayar tukang,'' ungkap Mufti.

Menyinggung target waktu penyelesaian pembangunan masjid PWI, dia mengatakan pengurus PWI sebenarnya menargetkan dua tahun, tetapi Gubernur Sulsel melalui Sekprov Andi Muallim dan mantan Ketua PWI Sulsel HM Alwi Hamu meminta secepatnya diselesaikan, bahkan kalau bisa, masjid tersebut sudah bisa dipakai salat pada bulan Ramadhan mendatang.

Meskipun demikian, panitia mengaku semuanya tergantung dana dan sumbangan yang masuk. Jika dana dan materialnya tersedia, maka pembangunannya akan terus jalan, tetapi jika dananya habis, maka pembangunannya terpaksa akan dihentikan dan akan dilanjutkan kembali jika dana dan materialnya sudah tersedia,'' kata Mufti.


PENGAWAS. Inilah Muhammad Saleh Daeng Tinri yang bertugas sebagai pengawas pembangunan Masjid Nurul Yasin PWI Sulsel. Sehari-hari, ia selalu ditemani kopi, rokok, dan air minum mineral. (Foto: Asnawin)


Tahap-tahap Pembangunan

Berikut tahapan-tahapan foto-foto pembangunan masjid Nurul Yasin PWI Sulsel, sejak pekan pertama, 24 Maret 2011, sampai pekan keenam, 27 April 2011. Saya mengabadikan perkembangan pembangunan masjid ini sebagai laporan tidak langsung pengurus kepada pemerintah dan masyarakat Sulsel.


PEKAN PERTAMA. Beginilah keadaan pekan pertama pembangunan Masjid Nurul Yasin di halaman sekretariat PWI Sulsel, pada Kamis sore, 24 Maret 2011. Pada pekan pertama ini, pekerjaan baru pada tahap menggali untuk pondasi dan untuk besi pilar masjid. (Foto: Asnawin)


PEKAN KEDUA. Pada pekan kedua, Sabtu, 2 April 2011, saya kembali memotret perkembangan pembangunan Masjid Nurul Yasin PWI Cabang Sulsel. Tampak sudah ada besi untuk pilar masjid. (Foto: Asnawin)


PEKAN KETIGA. Perkembangan pembangunan masjid PWI Sulsel pada pekan ketiga saya abadikan pada Sabtu, 9 April 2011. Tampak jumlah besi untuk pilar bertambah dibavding sepekan sebelumnya. (Foto: Asnawin)


PEKAN KEEMPAT. Pada pekan keempat, 15 April 2011, pondasi masjid sudah mulai kelihatan yang tingginya sekitar satu meter di atas permukaan tanah. (Foto: Asnawin)


PEKAN KELIMA. Sabtu, 23 April 2011, adalah pekan kelima pembangunan Masjid Nurul Yasin PWI Sulsel, di Jl AP Pettarani 31, Makassar. Pondasinya sudah tampak kokoh dan besi pilar sudah ada yang ditambah tingginya. (Foto: Asnawin)


PEKAN KEENAM. Sebuah tangga masuk ke lantai satu, sudah terlihat pada pekan keenam pembangunan Masjid Nurul Yasin PWI Sulsel, di Jl AP Pettarani 31, Makassar, Rabu, 27 April 2011. Masjid ini dirancang berlantai dua dan memiliki menara yang cukup tinggi kelak. (Foto: Asnawin)

Rabu, 13 April 2011

RRI Canangkan Radio Desa


RUANG PUBLIK. Dari kanan, Wakil Ketua Kadin Sulsel Zulkifli Gani Ottoh, Wabup Pangkep, Abd Rahman Asegaf, dan Direktur LP RRI Pusat, Ineke Widya Astuti, dan Kepala LLP RRI Makassar, I Made Ardika, di Pangkep, kemarin. (ist)


--------------------

RRI Canangkan Radio Desa

Harian Fajar, Makassar
Senin, 11 April 2011
http://www.fajar.co.id/read-20110411002805-rri-canangkan-radio-desa

PANGKEP -- Radio Republik Indonesia (RRI) selaku penyambung lidah masyarakat, sampai saat ini selalu setia dalam menyampaikan aspirasi masyarakat. RRI kini telah mencanangakan Desa radio di Desa Pitue di Kecamatan Ma'rang Kabupaten Pangkep, Minggu, 10 April 2011.

Kepala LPP RRI Makassar, Imade Artike SH MM, dalam sambutannya mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan RRI Makassar ini adalah dalam upaya memberikan ruang kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi dan memberikan masukan kepada RRI Makassar. Selain itu, juga ruang-ruang yang diberikan kepada publik agar dapat mengakomodir peran dari publik dalam rangka mewujudkan LPP RRI.

Dalam kesempatan itu juga selain dilaksanakan kegiatan pengukuhan tim pemerhati RRI untuk Desa Pitue, juga dilaksanakan kegiatan dialog sambung rasa dengan nara sumber Wakil Bupati Pangkep, Drs Abd Rahman, Ibu direktur LPP RRI Pusat, Drs Ineke Widya Astuti SSi, dan Kadin Sulawesi Selatan yang dihadiri oleh Wakil Kadin Drs Zulkifli Gani Ottoh yang saat ini beliau masih menjabat ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel.

Wakil Bupati Pangkep, Drs Abd Rahman Asseggaf dalam sambutannya mengatakan, pencanangan radio Desa oleh RRI ini merupakan kegiatan yang sangat perlu diapresiasi oleh masyarakat Pangkep, khususnya yang ada di Desa Pitue, karena telah direstuinya Pangkep sebagai lokasi pencanangan desa radio, dimana pencanangan Radio Desa ini merupakan yang pertama kalinya di Indonesia.

"Dengan adanya pencanangan Radio Desa ini kebahagian harus kita buktikan, tentu dengan berupaya sekuat mungkin untuk bergairah menyelenggarakan aktivitasnya, baik sebagai petani, nelayan, maupun sebagai apa saja dimata pencaharian kita masing-masing karena motivasi-motivasi yang diberikan oleh pemerintah khususnya RRI," tandasnya.

Ia juga mengatakan dengan adanya pencanangan Radio Desa ini diharapkan dapat menjadi sesuatu hal yang berarti, sehingga dapat menciptakan ruang-ruang kerja dengan baik, khususnya masyarakat petani, petambak, nelayan, dan lainnya.

Ibu direktur LPP RRI Pusat, Drs Ineke Widya Astuti SSi dalam sambutannya mengatakan, RRI yang merupakan lembaga penyiaran publik mempunyai tugas memberikan informasi pelayanan siaran pendidikan, hiburan yang sehat, pelestarian budaya, dan menjaga citra positif bangsa di dunia internasional.

RRI memiliki empat programa, programa satu yaitu ditujukan kepada masyarakat umum, yang fokusnya adalah pemberdayaan masyarakat, sehingga acara pada saat ini merupakan program pemberdayaan masyarakat dimana RRI selaku mediator dimana yang tujuannya ingin mendekatkan masyarakat dengan pemerintah daerah, pengusaha melalui RRI.

"Kami mengundang masyarakat berkenan senantiasa berbicara di RRI, kalau ibu mempunyai grub-grup kesenian, adik-adik mempunyai grub band, silakan siaran di RRI," ajaknya.

Begitu pula dengan anak TK, SD, dan SLTP, SLTA, petani, nelayan supaya tidak hanya mendengarkan, tapi berbicara di RRI, karena RRI yang singkatan dari Radio Republik Indonesia juga singkatan dari Rumah Rakyat Indonesia.

''Rumah dimana bapak, ibu bisa berkiprah, pemerintah daerah bisa menyampaikan kebijakan-kebijakan daerah melalui RRI, DPRD bisa menyampaikan peraturan daerah supaya bisa diketahui oleh masyarakat melalui RRI," jelas Ineke. (adh)

Bupati Pinrang: Tindak Lanjuti Kritikan Pers


JAKET PWI - Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Otto memasangkan Jaket PWI Perwakilan Pinrang, yang menandai acara pelantikan pengurus PWI Pinrang, di Gedung Dharma Wanita Pinrang, Sabtu malam 9 April 2011. (Foto: Nasri Aboe/Fajar)


-------------------

Bupati Pinrang: Tindak Lanjuti Kritikan Pers
- Pengurus PWI Perwakilan Pinrang Dilantik


Harian Fajar, Makassar
Senin, 11 April 2011
http://www.fajar.co.id/read-20110410204811-bupati-tindak-lanjuti-kritikan-pers

PINRANG -- Bupati Pinrang, Aslam Patonangi, mengakui kerap mendapat kritikan dari pers. Kritikan itu muncul setiap pekan.

"Tapi semuanya saya anggap bertujuan baik," akunya pada acara malam pelantikan pengurus PWI Perwakilan Pinrang, di Gedung Dharma Wanita, yang turut dihadiri jajaran Pengurus KNPI Sulsel serta kandidat Ketua KNPI Kabupaten Pinrang, dan Ketua Dharma Wanita Pinrang, Hj A Dewiyani Aslam Patonangi, Ketua IKWI Sulsel, Sabtu malam, 9 April 2011.

"Tapi saya sampaikan pada SKPD untuk tidak membawa kritikan itu sampai ke hati. Cukup simpan di atas (otak) untuk ditelaah, apakah kritikan itu benar atau sensasi belaka. Saya perintahkan SKPD untuk menindaklanjuti setiap kritikan pers sepanjang ada kebenarannya, dan bukan hanya berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan," kata Aslam.

Ketua PWI Cabang Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh, mengatakan kritikan pers kepada pemerintah merupakan ungkapan rasa sayang wartawan terhadap pemerintah.

"Entah apa jadinya kalau kebenaran dan fakta di lapangan terjadi lantas wartawan diam saja. Kritikan pers itu bertanda sayangnya wartawan kepada bapak bupati," kata Zulkifli.

Dalam kesempatan itu, dilantik Pengurus PWI Perwakilan Pinrang priode 2011 - 2014. Sebagai Ketua Ilwan Sugianto (Parepos), Sekretaris M.Thamrin Nawawi (Tabloid Lacak) dan Bendahara Masrul dari Tabloid Merah Putih Pos. (nas)

Rosihan Anwar Berpulang


BERPULANG. Penulis dan wartawan senior H Rosihan Anwar (89) meninggal dunia, Kamis pagi, 14 April 2011, setelah sempat dirawat lebih dari sebulan di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan. (Foto: KOMPAS/ELOK DYAH MESSWATI)


-----------------

Rosihan Anwar Berpulang

Tri Wahono | Kamis, 14 April 2011
http://oase.kompas.com/read/2011/04/14/08541124/Rosihan.Anwar.Berpulang

JAKARTA, KOMPAS.com - Kabar duka datang, Kamis (14/4/2011) pagi. Penulis dan wartawan senior H Rosihan Anwar (89) meninggal dunia setelah sempat dirawat lebih dari sebulan di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan.

"Innalillahi WIR : Wartawan senior Rosihan Anwar meninggal dunia pagi ini jam 08.15 WIB di MMC dalam usia 89 tahun," demikian pesan singkat yang diterima redaksi Kompas.com.

Seperti diberitakan sebelumnya, Rosihan Anwar masuk ruang gawat darurat (ICU) Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC) Jakarta, sejak Senin (7/3/2011). Ia dirawat karena gangguan serangan jantung.

Rosihan Anwar selama ini dikenal sebagai wartawan lima zaman. Ia telah menjadi penulis sejak zaman penjajahan Belanda sampai sekarang. Di usia senja, ia masih aktif mengirimkan tulisan ke media massa dan menulis buku. Buku terakhir yang ditulisnya adalah Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid IV (Penerbit Buku Kompas, November 2010).

Ia kini juga sedang menyiapkan memoar kehidupan cintanya dengan sang istri dengan judul yang sudah disiapkan Belahan Jiwa, Memoar Rosihan Anwar dengan Siti Zuraida.

Dengan ini segenap redaksi dan keluarga besar Kompas.com mengucapkan belasungkawa.

Seminar Smart Cities Award 2011 di Hotel Santika Makassar


SMART CITIES. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Surabaya, Ir Chalid Buhari, tampil sebagai pembicara pada Seminar Road to Smart Cities Award 2011, yang diadakan oleh harian Warta Ekonomi, di Hotel Santika, Makassar, Kamis, 14 April 2011. (Foto: Asnawin)

Kamis, 31 Maret 2011

Mantan Wartawan Harian ''Fajar'' Buka Warkop


WARKOP. Mantan wartawan harian Fajar, Makassar, Hurriah Ali Hasan, membuka warung kopi (warkop) yang diberi nama PAS CAFE, di Jl. Pengayoman, Ruko Mirah II no. 37, Makassar. Warkop yang dilengkapi fasilitas wifi (hotspot) itu dibuka sejak pertengahan Februari 2011. (Foto: Asnawin)


''Warkop ini saya buka bekerjasama dengan beberapa teman,'' jelas gadis yang akrab disapa Huri ini saat kami berbincang-bincang bersama dua rekan yang juga mantan wartawan harian, di Pas Cafe, Kamis, 31 Maret 2011.

Kedua mantan wartawan itu ialah Yahya Mustafa (harian Pedoman Rakyat) dan Nasrullah Rahim (harian Fajar).

Jumat, 25 Maret 2011

PWI Sulsel Advokasi Wartawan ''Makassar TV''

PWI Sulsel Advokasi Wartawan ''Makassar TV''

Harian Ujungpandang Ekspres
Jumat, 25-03-2011
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=63861


MAKASSAR, UPEKS---Kriminalisasi pers yang dialamatkan pada wartawan Makassar TV, Usman Afandi dan wartawan Koran Tempo, JUmadi mendapat kecaman pengurus PWI Cabang Sulsel. Kriminalisasi itu dilakukan oknum security PT Angkasa Pura I, Laode Sabadji dan Nur Ani beberapa hari lalu. Aparat Polresta Maros diminta menuntaskan kasus ini hingga ke meja hijau.


Wakil Ketua PWI Sulsel Bidang Pembelaan, Rifai Manangkasi dalam releasenya ke redaksi Upeks, Kamis (24/3) menjelaskan, PWI Sulsel setelah menerima laporan pengaduan manajemen Makassar TV, langsung melakukan investigasi. Hasilnya, ditemukan dugaan pelanggaran UU No.40/1999 tentang pers, utamanya pasal 1 ayat 8 dan pasal 8 serta pasal 4 dan 3.

"Selain melabrak UU No.40/1999 tentang pers, juga patut disangkakan melanggar pasal 310 jo to 335 KUHP," ujar Rifai.

Diakui Rifai, jika pihaknya telah koordinasi Ka Urbin Ops Satserse Polres Maros, Iptu Amin untuk proses lanjut kasus itu.

"PWI siap memberikan advokasi dan saksi ahli atas kasus yang dialami Usman dan Jumadi," tegas Rifai.

Rifai juga mengingatkan agar aparat dan masyarakat sesuai UU diberi ruang untuk memantau dan melaporkan analisis pelanggaran hukum, etika dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan pers.

"Bukan dengan cara-cara seperti yang dipertontonkan security bandara itu," jelasnya. ()

Pembangunan Masjid Nurul Yasin PWI Sulsel

MASJID PWI. Pembangunan masjid di halaman sekretariat PWI Sulsel telah dimulai sejak Jumat, 18 Maret 2011, yang diawali dengan pembacaan doa dan barazanji. Masjid itu diberi nama Masjid Nurul Yasin. Tampak suasana yang saya rekam pada Kamis sore, 24 Maret 2011. (Foto: Asnawin)


MASJID PWI. Pembangunan Masjid Nurul Yasin PWI Cabang Sulsel ditargetkan rampung paling lambat dua tahun ke depan. Peletakan batu pertama telah dilakukan pada 8 Desember 2010 oleh Ketua PWI Pusat H Margiono, kemudian berturut-turut oleh Sekretaris Provinsi Sulsel Andi Muallim, serta HM Alwi Hamu selaku pembina PWI Sulsel. Masjid yang rencananya berlantai 2 tersebut, adalah masjid pertama yang di bangun PWI se-Indonesia. Tampak suasana pembangunan masjid pada Kamis sore, 24 Maret 2011. (Foto: Asnawin)

Santai Sejenak di Depan Gedung PWI Sulsel

SANTAI SEJENAK. Sore hari biasanya ada beberapa wartawan pengurus dan anggota PWI Sulsel yang datang ke Gedung PWI Sulsel, di Jl AP Pettarani, Makassar. Kadang-kadang kita santai sejenak sambil ngobrol tentang berbagai peristiwa dan situasi, termasuk masalah-masalah yang kita hadapi sehari-hari. (Foto: Asnawin)


Tampak dalam gambar, saya (kedua kanan) bersama Hasdar Sikki (paling kanan), Gunt Sumedi (kedua dari kiri), dan Irbar duduk-duduk santai sambil menikmati suasana di depan Gedung PWI Sulsel.

Minggu, 13 Maret 2011

Pertemuan Forum Pembaca Kompas di Makassar


Puluhan pembaca dan penulis menghadiri Forum Pembaca Kompas - Kompas Audience Engagement (FPK-KAE), di Hotel Santika Makassar, Ahad, 13 Maret 2011. Pertemuan diisi dengan dialog dan diselingi acara door prize, serta pemberian hadiah utama. (Foto: Asnawin)



Pertemuan Forum Pembaca Kompas di Makassar

Oleh: Asnawin
(Penulis Peserta Pertemuan)

Puluhan pembaca dan penulis menghadiri Forum Pembaca Kompas Kompas Audience Engagement (FPK-KAE), di Hotel Santika Makassar, Ahad, 13 Maret 2011. Wakil Pemimpin Umum Kompas, St Sularto, yang membuka pertemuan mengatakan, Forum Pembaca Kompas merupakan salah satu cara untuk menunjukkan bahwa Kompas berorientasi pada pelanggan.

Dalam acara yang didahului dengan door prize dan serah terima Forum Pembaca Kompas (FPK)-9 kepada FPK-10 Makassar, dilangsungkan dialog yang menampilkan tiga pembicara dari Kompas, yakni St Sularto, Abun Sanda, dan Dedy Pristiwanto. Dialog dipandu Titut Kitot.

Dalam sesi tanya jawab, para penulis yang diundang umumnya mengaku tulisan yang mereka kirim ke Kompas jarang dimuat, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang tulisannya belum pernah dimuat.

Mereka mengeritik Kompas yang terlalu sering memuat tulisan opini dari beberapa orang yang sama dan umumnya berasal dari Jakarta dan pulau Jawa, sementara penulis dari luar Jawa, terutama dari kawasan timur Indonesia jarang dimuat tulisannya.

Mereka juga meminta penjelasan dan kiat-kiat agar tulisan opini mereka dapat dimuat di Kompas, serta mengusulkan agar Kompas mengadakan pelatihan khusus bagi penulis.

Dari sisi pelayanan, para anggota FPK Makassar mengaku cukup puas, tetapi ada juga yang mengaku koran mereka kerap terlambat diantar ke rumah atau kerap diantar dua edisi berturut-turut pada hari berikutnya, sehingga mereka merasa dirugikan, karena mereka berharap bisa membaca harian Kompas pada pagi hari sebelum beraktivitas.

Mengenai isi dan rubrik yang disajikan Kompas, para peserta umumnya juga mengaku cukup puas, tetapi mereka berharap ada ruangan atau halaman khusus berita-berita Makassar dan sekitarnya, serta menambah porsi berita-berita pendidikan.

Selain itu, ada juga peserta yang mengemukakan bahwa dirinya beberapa kali menemukan berita yang dimuat di harian Kompas tidak lengkap unsur 5W+1H, terutama berita-berita wawancara.

''Kadang-kadang ada berita Kompas yang tidak menyebutkan kapan dan dimana wawancara dilakukan,'' ungkap peserta yang mengaku berlatarbelakang wartawan tersebut.

Mantan Sekda Provinsi Sulsel HM Parawansa yang mengaku berlangganan Kompas sejak tahun 1971, mengeritik Kompas karena dianggap kurang ''berani'' seperti koran lain.

Esais Asdar Muis RMS juga mengeritik Kompas karena memakai kata ''mirip'' ketika dan bukan memakai ''diduga'' terhadap Gayus Tambunan ketika tertangkap kamera sedang menonton pertandingan tenis di Bali, padahal statusnya waktu itu adalah tahanan.

Asdar Muis juga mengeritik foto-foto yang ditampilkan pada halaman satu, karena menganggap jarang sekali ada foto yang benar-benar berkualitas dari sisi jurnalistik.

Peserta lain mengatakan, Kompas pernah mendapat penghargaan sebagai pengguna bahasa yang baik, tapi kelihatannya ada penurunan dalam beberapa tahun terakhir dari segi kualitas bahasa.

Dosen Unhas, Prof Nurhayati Abbas, yang mengaku membaca kompas sejak akhir tahun 1966, mengusulkan agar Kompas menambah artikel mengenai lingkungan hidup.

Menanggapi pertanyaan, kritikan, dan usulan peserta pertemuan, Wakil Pemimpin Umum Kompas, St Sularso, mengatakan, Kompas sama sekali tidak melihat siapa dan dari daerah mana orang yang mengirim tulisan ke Kompas, jadi tidak unsur pilih kasih dan sebagainya.

''Kompas setiap hari menerima 70 sampai 80 tulisan, tapi yang dimuat hanya 5-6 tulisan,'' ungkapnya.

Dia menambahkan, dalam hal isi pemberitaan, Kompas tidak lagi cover booth side, tapi cover all side. Tentang pemberitaan Kompas yang dinilai ''kurang berani'', Sularso mengatakan Kompas bukan kurang berani, melainkan selalu berhati-hati.

''Kami dalam posisi selalu hati-hati,'' ungkapnya sambil tersenyum.

Abun Sanda yang pernah menjadi wartawan harian Fajar di Makassar dan kini menangani manajemen bisnis Kompas, mengaku pernah bertugas selama 22 tahun di bagian redaksi Kompas.

''Saya sering lihat kerja teman-teman di desk opini. Saya juga sering diskusi dengan penulis-penulis ternama dan mereka mengaku setiap hari membaca artikel opini Kompas. Tulisan yang bagus itu bahasanya sederhana, tapi gagasannya luar biasa. Gagasan itu sangat penting. Kadang-kadang tulisannya bagus, bahasanya sangat bagus, tapi tidak jelas apa idenya. Orang-orang besar sudah tidak lagi berpikir soal gaya menulis, yang penting idenya,'' tutur Abun.

Dia mengungkapkan bahwa manajemen bisnis Kompas kini mencoba menawarkan sistem berlangganan selama 15 tahun ke depan dengan imbalan emas 15 gram.

Senin, 07 Maret 2011

''Soeara Indonesia'' Surat Kabar Pertama di Makassar

SEJARAH JURNALISTIK. Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulsel, Drs Asnawin membawakan materi Sejarah dan Kode Etik Jurnalistik pada Sekolah Dasar Jurnalistik, di Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sabtu, 5 Januari 2011. Sekolah Dasar Jurnalistik yang diadakan Majalah Sinovia Fakultas Kedokteran Unhas itu diikuti puluhan peserta. (Foto: Panpel)

Jumat, 04 Maret 2011

Polda Sulsel Harap KPID Intens Sosialisasi


BAHAS SIARAN.
Diskusi di studio tiga Fajar TV membahas legalitas distribusi siaran TV kabel serta relevansinya dengan Ranperda, Kamis malam, 3 Maret. Acara yang dipandu Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh ini, menghadirkan narasumber dari Polda Sulsel, Muh Siswa, Rusdin Tompo dari KPID, Indovision serta APMI. (Foto: Tawakkal/Fajar)


Polda Sulsel Harap KPID Intens Sosialisasi
- Talkshow Soal Merebaknya TV Kabel Ilegal


Harian Fajar, Makassar
Jumat, 04 Maret 2011
http://www.fajar.co.id/read-20110303234749-polda-harap-kpid-intens-sosialisasi

MAKASSAR -- Perizinan penyelenggaraan penyiaran publik jasa penyiaran berlangganan, khususnya TV Kabel, diperbincangkan dalam talkshow yang digelar Fajar TV, Kamis malam, 3 Maret. Topik ini, menjadi sorotan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel.

Ketua KPID Sulsel, Rusdin Tompo, memperkirakan ada ratusan pengelola TV Kabel di sulsel. Jumlah tersebut cukup banyak, karena usaha TV Kabel tidak hanya didirikan oleh kelompok-kelompok usaha. Bahkan, TV Kabel didirikan dan dikelola oleh orang-perorang saja, yang tidak punya badan hukum. Dari ratusan TV Kabel tersebut, lanjut Rusdin, hanya 51 di antaranya yang telah memasukkan permohonan izin penyiaran, 36 yang perizinannya sudah diproses, dan 19 yang sudah keluar izinnya.

TV Kabel menjadi perhatian utama KPID Sulsel, karena banyak TV Kabel yang menyiarkan konten-konten yang bertentangan dengan aturan-aturan penyiaran Indonesia.

"Konten-konten tersebut, seperti kekerasan, bahkan ada yang menyebarkan paham-paham yang tidak sesuai nilai-nilai agama,” ujarnya.

Selain itu, TV Kabel juga telah merugikan banyak pengelola TV Swasta, yang selama ini membayar pajak, dan memiliki izin.

Kepala Bagian Humas Polda Sulsel, AKBP Muh Siswa menambahkan, polisi akan memidanakan penyelenggara TV Kabel yang tidak mengantongi izin.

"Tapi tentu ada prosesnya. Saya kira harus ada sosialisasi terlebih dulu, selanjutnya teguran. Jika sudah sampai tahap tersebut, masih belum diindahkan, kita akan pidanakan,” ujarnya.

Ini Dikatakan Siswa, karena selama ini, pihaknya memang sudah sering menerima permintaan dari KPID.

Hal lain yang akan dilakukan Polda adalah mengatasi berbagai peraturan daerah yang bertentangan dengan undang-undang penyiaran.

Hal ini dibenarkan Arya Mahendra Sinulingga, Sekjen Asosiasi Penyelenggara Multimedia Indonesia (APMI).

"Banyak TV Kabel, yang sebenarnya ilegal, tapi tetap dimintai retribusi oleh pemerintah daerah," ujarnya.

Padahal, TV Kabel, itu wilayahnya KPID, dan beban pajak pengelola TV Kabel, harus dibayar langsung ke Kementerian Informasi dan Komunikasi. Arya mengaku sudah sering melaporkan hal tersebut ke polisi. Perlu diusulkan untuk dibuat ranperda di Komisi A DPRD dan KPID ikut menjadi salah satu staf ahli.

Dalam Talkshow tersebut, pembicara lain yang hadir adalah salah seorang pemilik Indovision, Bambang. (sbi)

Kamis, 03 Maret 2011

PWI Sulbar Sesalkan Oknum Polisi Pukul Wartawan


Illustrasi foto aksi unjukrasa wartawan. Rabu, 2 Maret 2011, kembali terjadi kekerasan terhadap wartawan di Mamuju, Sulawesi Barat. Oknum polisi memukul wartawan Koran Publik, Awaluddin DP, yang tengah meliput lomba balap motor di depan kantor Gubernur Sulbar. PWI Sulbar menyesalkan aksi anarkis itu.



PWI Sulbar Sesalkan Oknum Polisi Pukul Wartawan

Kamis, 03 Maret 2011
http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/25272/pwi-sulbar-sesalkan-oknum-polisi-pukul-wartawan

Mamuju (ANTARA News) - Persatuan Wartawan Indonesia Sulawesi Barat, menyesalkan aksi anarkis yang dilakukan oknum polisi yang memukul wartawan Koran Publik, Awaluddin DP yang sedang meliput balap motor di depan Kantor Gubernur Sulbar di Mamuju, Rabu, 2 Maret 2011.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulbar, Andi Sanif Atjo yang dikonfirmasi di Mamuju, mengatakan, kekerasan oknum polisi terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistiknya sangat tidak dibenarkan.

Karenanya, kata dia, aksi anarkis apalagi dilakukan oleh oknum polisi terhadap jurnalis saat bekerja di lapangan sebagai bentuk kriminalisasi terhadap pers.

"Kami menyesalkan tindakan itu, makanya kami kecam atas tindakan tersebut karena bisa berdampak buruk bagi pekerja pers atau matinya kebebasan pers yang nyata-nyata telah diatur Undang-undang," ujarnya.

Andi menjelaskan, peristiwa pemukulan terhadap salah seorang wartawan ini menunjukkan bahwa masih banyak aparat hukum yang tidak memahami tugas para pencari berita.

"Kekerasan terhadap pers semakin meningkat. Ini sangat memprihatinkan karena ternyata masih banyak yang tidak memahami apa yang menjadi tugas-tugas sebagai pekerja pers yang nyata-nyata telah dilindungi secara hukum. Kita berharap, kekerasan terhadap pers tak terulang lagi," papar dia.

Wartawan dalam menjalankan tugasnya mengembang amanah yang mulia sebagai alat kontrol kinerja pemerintah yang telah dilindungi Undang-undang.

Untuk itu, lanjutnya, PWI Sulbar mendesak aparat hukum agar segera mengusut tuntas atas peristiwa pemukulan terhadap wartawan sesuai dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Kami harap aparat kepolisan segera mengusut tuntas atas kekerasan pers karena ini adalah bentuk penguburan terhadap undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang pers yang secara hukum telah mengaturnya," pintanya.

Ia mengatakan, kekerasan yang dilakukan oknum polisi BM, personel Samapta Polres Mamuju, mengakibatkan korban mengalami luka memar di tangan, telepon genggamnya, dan kartu pers yang sedang dipegangnya rusak.

"Saya dipukul menggunakan rotan, panjangnya setengah meter, yang kemudian saya tangkis dengan tangan sehingga mengenai telepon genggam dan kartu pers yang saat itu saya pegang hingga rusak. Seandainya saya tidak menangkis pukulan polisi itu muka saya pasti hancur," katanya.

Sebelumnya, Kapolres Mamuju AKBP Darwis Rincing berjanji menindak anggotanya yang telah melakukan perbuatan kasar kepada wartawan yang sedang bertugas.

"Saya juga tidak habis pikir, kok oknum polisi memukul wartawan, padahal setiap saat saya sudah sampaikan bahwa wartawan adalah mitra polisi, wartawan telah berjasa kepada polisi, karena atas jasanya polisi bisa melakukan reformasi internal," katanya.

Atas nama Polres Mamuju, ia mohon maaf atas kejadian pemukulan yang dilakukan aparatnya.

"Jadi kami minta maaf, aparat kami yang melakukan kekerasan akan kami tindak," katanya. (T.KR-ACO/F003)

Rabu, 02 Maret 2011

Zulkifli Warning Anggota PWI Sulsel


Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel Zulkifli Gani Ottoh mewarning anggota PWI agar tidak ikut terlibat organisasi kewartawanan di luar PWI. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan dunia kewartawanan di Sulsel, maka PWI juga akan mendatabasekan seluruh perusahaan pers dan wartawannya.


-------------------------

Zulkifli Warning Anggota PWI Sulsel

Harian Fajar, Makassar
Kamis, 17 Februari 2011
http://www.fajar.co.id/read-20110216190303-zulkifli-warning-anggota-pwi

MAKASSAR --- Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel Zulkifli Gani Ottoh mewarning anggotanya agar tidak ikut terlibat organisasi kewartawanan di luar PWI. Hal itu ditegaskan Zulkifli dalam jumpa pers di Gedung PWI Sulsel, Rabu, 16 Februari 2011.

Zulkifli mengatakan langkah ini sengaja dilakukan seiring dengan munculnya berbagai organisasi kewartawanan di Makassar belakangan ini.

"Anggota PWI diimbau untuk tidak ikut terlibat organisasi kewartawanan di luar PWI karena itu melanggar ketentuan yang ada," tegas Zugito, sapaan akrab Zulkifli Gani Ottoh.

Namun demikian, tambah Zulkifli, insan pers tetap memiliki kemerdekaan untuk memilih salah satu organisasi kewartawan.

"Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan dunia kewartawanan di Sulsel, maka kami PWI juga akan mendatabasekan seluruh perusahaan pers dan wartawannya," jelasnya.

Sementara itu, soal isu tuntutan berkantor di Gedung PWI Sulsel oleh oknum wartawan tertentu, Zulkifli menjelaskan bahwa pada dasarnya hal itu hanya untuk memecah belah wartawan Sulsel.

"Wartawan Sulsel harus tetap bersatu walaupun berbeda organisasi," imbau Zulkifli.

Dia menjelaskan munculnya isu tersebut disebabkan adanya tendensi salah satu oknum yang juga masih berstatus anggota PWI namun telah mendirikan organisasi lain. Tidak hanya itu, oknum tersebut telah melangkah lebih jauh bersama organisasinya dengan meminta dana ke sejumlah instansi dengan menjual peringatan Hari Pers Nasional 2011.

"Oknum tersebut juga menuntut agar di kantor PWI mereka mendapatkan tempat. Padahal, SK Gubernur memandatkan pengelolaan gedung ke PWI selaku salah satu organisasi yang diakui undang-undang. Jadi, kalau mereka mau gedung silakan bermohon ke pemerintah," pungkas Zulkifli.

Menyikapi persoalan itu, pihaknya telah menyerahkan penanganan kasusnya ke penegak hukum.

"Tapi, kami berharap oknum tersebut mau meminta maaf dan mengakui kekeliruannya," harapnya.

Sementara itu, Anggota Pertimbangan Daerah PWI Sulsel Andi Pasamangi W dan Anggota Dewan Kehormatan, Jonathan Mandiangan mengatakan, keberadaan gedung PWI sama halnya dengan gedung TVRI dan RRI. "Kalau organisasi lain menginginkan gedung seperti yang ditempati PWI, maka silahkan bermohon ke pemerintah," tandas Jonathan. (hdy)

PWI Sulsel Tertibkan Anggotanya untuk Uji Kompetensi


Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh (kedua dari kanan) menegaskan bahwa PWI Sulsel akan menertibkan anggotaanya terkait uji kompetensi untuk memenuhi standarisasi pers. Penertiban anggotaan itu bertujuan mengantisipsi adanya wartawan "Bodrex" di lapangan yang hanya memanfaatkan kartu keanggotaannya untuk kepentingan pribadi. (Foto: Andi Mahmud Pallawa)


---------------------------------------

PWI Sulsel Tertibkan Anggotanya untuk Uji Kompetensi

Senin, 21 Februari 2011
http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/24903/pwi-sulsel-tertibkan-keanggotaan-untuk-uji-kompetensi

Makassar (ANTARA News) - Persatuan Wartawan Indonesia Sulawesi Selatan (PWI Sulsel) akan menertibkan anggotaanya terkait uji kompetensi untuk memenuhi standarisasi pers.

"Tujuan menertibkan keanggotaan ini, untuk mengantisipsi adanya wartawan "Bodrex" di lapangan yang hanya memanfaatkan kartu keanggotaannya untuk kepentingan pribadi," kata Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Otto di Makassar, Senin, 21 Februari 2011.

Menurut dia, pentingnya wartawan mengikuti uji kompetensi atau standarisasi pers itu agar ke depan semua yang berkecimpung di dunia jurnalistik ini bisa lebih profesional.

Persyaratan kompetensi bagi wartawan maupun perusahaan pers diusulkan masuk dalam materi revisi Undang-Undang Pers ketika Hari Pers Nasional diperingati 2010.

Berkaitan dengan hal tersebut, pihak PWI Sulsel bekerja sama dengan pemerintah setempat dan Dewan Pers mengadakan sekolah jurnalistik untuk menggembleng calon wartawan profesional.

Sementara untuk keanggotaan dari organisasi wartawan ini, Zulkifli mengimbau, agar pengelola media massa mengeluarkan surat rekomendasi atau pemberitahuan siapa saja wartawannya yang masih aktif dan tidak aktif lagi.

Dengan demikian, pengurus PWI Sulsel akan terbantu untuk menyeleksi keanggotaan organisasi pers ini yang anggotanya tersebar pada 24 kabupaten/kota di Sulsel.

Menanggapi hal tersebut, Badan Pekerja Lembaga Pendidikan Informasi Studi Media Publik di Makassar Rahmadani mengatakan, masing-masing organisasi pers dituntut untuk mendorong anggotanya menjadi wartawan profesional.

"Sehingga wajar jika setiap organisasi pers itu senantiasa menertibkan keanggotaannya untuk mengantisipasi adanya anggota yang menyimpang," katanya. (T.S036/E001)

Komisi Informasi Provinsi Sulsel

Tanpa melihat profil dan latar belakang 10 nama calon komisioner yang direkomendasikan oleh Komisi D DPRD Sulsel, kita berharap ketua dan pimpinan DPRD Sulsel bersama Gubernur Sulsel mempertimbangkan banyak hal sebelum menetapkan lima komisioner Komisi Informasi.

Selasa, 01 Maret 2011

Gubernur dan Bupati Sumbang Atlet PON Sulsel


Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa, di Sinjai, Minggu, 27 Februari 2011, memberi bantuan dana untuk atlet tim pra PON bola basket yang akan berlaga di babak kualifikasi. Bantuan untuk tim pra PON bola basket diserahkan Gubernur Syahrul Yasin Limpo yang juga Ketua Umum KONI Sulsel sebesar Rp 50 juta.


---------------------

Gubernur dan Bupati Sumbang Atlet PON Sulsel

Selasa, 01 Maret 2011
http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/25199/gubernur-dan-bupati-sumbang-atlet-pon-sulsel

Sinjai, Sulsel (ANTARA News) - Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa memberi bantuan dana untuk atlet tim pra PON bola basket yang akan berlaga di babak kualifikasi.

Bantuan untuk tim pra PON bola basket diserahkan Gubernur Syahrul Yasin Limpo yang juga Ketua Umum KONI Sulsel sebesar Rp 50 juta. Sebelumnya, Syahrul juga menyerahkan bantuan Rp 50 juta kepada Pengcab Panjat Tebing Sinjai, pada peringatan hari jadi ke-447 Kabupaten Sinjai, di Sinjai, Minggu, 27 Februari 2011.

Sementara Bupati Sinjai menyerahkan bantuan Rp 100 juta kepada tim pra PON bola basket yang akan berlaga di babak kualifiaksi PON. Seleksi atlet pra PON bola basket berlangsung di Sinjai yang bertepatan dengan hari jadi Sinjai yang ke-447 dengan menggelar kejuaraan bola basket se Sulsel memperebutkan piala bergilir Andi Rudiyanti Asapa.

''Kabupaten Sinjai, salah satu daerah yang memiliki sarana olahraga cukup lengkap di Sulsel dan melahirkan atlet berprestasi, mengungguli Kota Makassar, sehingga daerah ini menjadi yang terbaik bersama enam daerah yang meraih penghargaan sebagai KONI kabupaten/kota teladan Sulsel 2010 hasil pilihan SIWO-PWI Sulsel,'' ujar Sekretaris SIWO-PWI Sulsel Syarifuddin May yang yang ketua panitia pemilihan atlet, pelatih, pembina olahraga terbaik dan KONI kabupaten/kota teladan Sulsel 2010 yang turut menyaksikan penyerahan piagam penghargaan itu oleh Gubernur Syahrul Yasin Limpo.

Sejumlah sarana olahraga yang telah dimiliki Sinjai antara lain, stadion, kolam renang, lapangan tenis ruang tertutup (indoor), lapangan bola voli, sepak takraw, arena panjat tebing dan lapangan sepak bola hampir di semua desa.

Pemkab Sinjai saat ini membangun gedung olahraga dan asrama atlet dengan dana sekitar Rp 50 miliar, ujar Ketua panitia Hari jadi Sinjai Drs Mansyur Yacub MSi.

Sementara prestasi atlet daerah ini yakni merupakan satu-satu tim sepak bola Sulsel yang berkiprah di pentas kompetisi sepak bola divisi utama, setelah tim Liga Super Indonesia PSM dibekukan PSSI.

Selain itu, Sinjai mendominasi perolehan medali emas di Porda Sulsel 2010 beberapa medali emas di cabang renang.(T.S016/T009)

Selasa, 25 Januari 2011

Fit and Propert Test KI Sulsel Digelar Pekan Depan


Fit and Propert Test terhadap calon komisioner Komisi Informasi (KI) Provinsi Sulawesi Selatan segera diselenggarakan. Sebanyak 12 calon (seorang di antaranya adalah wartawan) akan berhadapan dengan tim penguji, yakni anggota Komisi D DPRD Sulsel yang berjumlah 15 orang. Berdasarkan jadwal yang dikeluarkan Komisi D DPRD Sulsel, fit and properts test akan dilaksanakan selama tiga hari, yakni Senin (31 Januari 2011) sampai dengan Rabu (2 Februari 2011)


---------------------------

Fit and Propert Test KI Sulsel Digelar Pekan Depan

Harian Ujungpandang Ekspres, Makassar
Rabu, 26-01-2011
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=60307

MAKASSAR, UPEKS--Fit and Propert Test terhadap calon komisioner Komisi Informasi (KI) Provinsi Sulawesi Selatan segera diselenggarakan. Sebanyak 12 calon akan berhadapan dengan tim penguji, yakni anggota Komisi D DPRD Sulsel yang berjumlah 15 orang.

Demikian dijelaskan Ketua Komisi D DPRD Sulsel, A Hery Suhari Attas usai menggelar rapat pembahasan Fit and Propertest KIP di ruang Komisi D DPRD Sulsel, Selasa, 25 Januari 2011.

Menurutnya, jadwal fit and propert test tersebut dimulai Senin hingga Rabu (31/1-2/2) mendatang. Untuk itu, sepekan Komisi D mulai melakukan persiapan bahan ujian. Rabu, calon komisioner yang akan mengikuti ujian diminta untuk segera memasukkan visi misi. Begitupula gagasan singkat mereka sebanyak 3 halaman.

"Jadwal sudah fix. Kami sudah melakukan persiapan sejak hari Minggu hingga Jumat pekan ini. Senin hingga Rabu pekan depan, kita sudah mulai menguji. Mulai Senin setiap harinya kita akan menguji empat calon," ucapnya.

Adapun pedoman teknis yang akan dilakukan bahan ujian, lanjut Wakil Ketua Fraksi PDK tersebut, di antaranya keterampilan komunikasi. Begitupula human realation, kedalaman wawasan, pengalaman manajerial, serta kedalaman tanggapan masyarakat atas visi misi. Terpenting gagasan singkat yang diajukan calon.

Hery mengungkapkan, pada hari pertama, Senin 31 Januari 2011, tim penguji akan menguji empat calon, yakni A Risma Dewi Endriana Jayadi, Abdul Haeba Ramli, Alamsyah, dan Andi Ardin. Pada hari kedua, 1 Februari 2011, akan diuji Asnawin, Aswar Hasan, Herry Hamzah, dan Jalaluddin Rahman. Hari ketiga, 2 Februari 2011, tim penguji akan menguji Mattekawan, Hidayat Nahwi Rasul, Muhammad Ali, dan Rayudaswati Budi.

"Pedoman teknis kita ada empat poin. Yakni melihat bagaimana komunikasi dan human relation calon. Melihat tingkat kedalaman wawasan mereka dan menggali pengalaman manajerial komisioner, serta meminta tanggapan masyarakat atas visi misi dan gagasan singkat mereka," katanya.

Dari hasil fit and propert test ini, ucap Hery, Komisi D akan menggelar rapat pleno di komisi. Rapat pleno mendengarkan seperti apa penilaian-penilaian dari tim penguji. Hasilnya akan dilaporkan ke pimpinan DPRD. Kemudian dilanjutkan hasil fit and propert test lalu diserahkan ke gubernur untuk ditetapkan dalam rapat Paripurna.

Senin, 24 Januari 2011

Sulsel Miliki 76 Media Cetak, 28 Radio, dan 3 Televisi Lokal

BUKU ''Data Pers Nasional 2010'' memuat data media cetak dan media elektronik seluruh Indonesia. Di Sulsel, media cetak harian 8 (delapan), media cetak mingguan 33, dan media cetak bulanan 32. Media pers radio di Sulsel tercatat sebanyak 28, sedangkan stasiun televisi 3 (tiga), yakni Fajar TV, Makassar TV, dan Mitra TV. (int)

Minggu, 23 Januari 2011

Ketua PWI Perwakilan Sidrap Siap Lakukan Pembaharuan

Setelah terpilih sebagai Ketua PWI Perwakilan Sidrap periode 2011-2014, Hasman Hanafi langsung menyatakan tekadnya melakukan pembaharuan. Wartawan harian Ujungpandang Ekspres itu berjanji akan memberdayakan pengurus, membuat program kerja yang benar-benar dibutuhkan oleh wartawan.


-----------------------------

Ketua PWI Perwakilan Sidrap Siap Lakukan Pembaharuan

Setelah terpilih sebagai Ketua PWI Perwakilan Sidrap periode 2011-2014, Hasman Hanafi langsung menyatakan tekadnya melakukan pembaharuan. Wartawan harian Ujungpandang Ekspres itu berjanji akan memberdayakan pengurus, membuat program kerja yang benar-benar dibutuhkan oleh wartawan, pemerintah dan masyarakat Sidrap dan Enrekang, serta membenahi sekretariat PWI Perwakilan Sidrap.

Tekad tersebut diungkapkan dalam beberapa kesempatan, antara lain pada Rapat Kerja PWI Sulsel di Makassar, Sabtu, 15 Januari 2011, serta sesaat setelah terpilih sebagai ketua pada Konferensi PWI Perwakilan Sidrap, di Hotel Grand Zidny Pangkajene Sidrap, Sabtu, 8 Januari 2011.

“Saya tidak mau, pengurus yang ada sekarang ini tidak aktif dalam mewujudkan program kerja PWI Perwakilan Sidrap ke depan,” tegas Hasman yang terpilih menjadi ketua menggantikan Arham Samad.

Pada acara pemilihan ketua PWI Perwakilan Sidrap, Hasman mengungguli Mattau Kulattang (tabloid Indonesia Pos) dengan perolehan suara 16 berbanding 2. Sebenarnya ada 20 suara yang diperebutkan, tetapi dua pemilih lainnya memilih abstain alias tidak menggunakan hak pilihnya.

Mantan Sekretaris Marno Pawessai yang sebelumnya disebut-sebut bakal bersaing memperebutkan kursi ketua, memilih mengundurkan diri sebelum pemilihan dilakukan.

Setelah terpilih sebagai ketua, Hasman kemudian merangkul Marno Pawessai (tabloid Merah Putih Pos) sebagai sekretaris, dan Muh Rizal Bakri sebagai bendahara.

Konferensi PWI Perwakilan Sidrap dihadiri Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh SH, yang didampingi Wakil Ketua Bidang Organisasi Hasan Kuba, Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan Rifai Manangkasi, Wakil Sekretaris Anwar Mahendra, dan Sekretaris Eksekutif Supriadi.

Sumber berita:
1. Harian Ujungpandang Ekspres
Senin, 10-01-2011
http://www.ujungpandangekspres.com/index.php?option=read&newsid=59159
2. Harian Pare Pos
Rabu, 12 Januari 2011
http://www.parepos.co.id/read/34427/10/ketua-pwi-sidrap-minta-pengurus-aktif
3. Hasan Kuba
(Wakil Ketua PWI Sulsel)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, kritikan, dan saran anda di blog http://pwi-sulsel.blogspot.com]