Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

PWI Sulsel-Pemprov Sulsel Gelar Safari Jurnalistik

PWI Sulsel-Pemprov Sulsel Gelar Safari Jurnalistik

Makassar, 30 September 2010

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulawesi Selatan bekerja-sama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akan menggelar Safari Jurnalistik pada 16 kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan, 4 s/d 10 Oktober 2010.

Sekretaris Panitia, Hasan Kuba, didampingi wakil sekretaris M Razak Kasim, kepada pengelola blog http://pwi-sulsel.blogspot.com/, Asnawin, Rabu, 29 September 2010, menjelaskan, Safari Jurnalistik itu bertujuan memantau pelaksanaan program Pemprov Sulsel, yakni Pendidikan dan Kesehatan Gratis, pada 16 kabupaten dan kota se-Sulsel.

Ke-16 kabupaten dan kota yang akan dikunjungi yaitu Gowa, Bantaeng, Sinjai, Bone, Wajo, Luwu, Palopo, Sidrap, Enrekang, Toraja Utara, Toraja, Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, dan Maros.

Pelepasan peserta Safari Jurnalistik yang terdiri atas wartawan media cetak dan elektronik se-Sulsel akan dilakukan Gubernur Sulsel Dr H Syahrul Yasin Limpo SH MH MSi, di Baruga Sangiaseri Gu…

Sejarah Dewan Kehormatan PWI (4-habis)

Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat periode pertama, 1952-1968, H Agus Salim. Tokoh yang dikenal sebagai negarawan, tokoh pergerakan, dan tokoh pers sejak zaman penjajahan ini, dalam Dewan Kehormatan PWI periode pertama didampingi H Mohammad Natsir (waktu itu menjabat Menteri Luar Negeri) sebagai wakil ketua, kemudian Roeslan Abdulgani, Dr Soepomo, dan Djawoto. Soepomo dan Roeslan Abdulgani kemudian menjadi menteri. (ist)

Sejarah Dewan Kehormatan PWI (3-bersambung)

MR. SUMANANG. Sejak DK-PWI terbentuk untuk pertama kali pada 24 September 1952, beberapa tahun lamanya keanggotaan dan kepengurusannya tidak diadakan oleh Kongres PWI berikutnya. Barulah pada 1968 diadakan pemilihan anggota Dewan Kehormatan PWI masa bakti 1968-1970, terdiri dari Mr. Sumanang sebagai ketua dengan anggota H. Rosihan Anwar, Prof. Oemar Seno Adji SH, Asa Bafagih, dan Sumantoro. (http://store.tempo.co/)

Sejarah Dewan Kehormatan PWI (2-bersambung)

SUARDI TASRIF. Pengurus PWI mengadakan pertemuan atau semacam konferensi di Jakarta, 1-2 Mei 1954, yang dihadiri oleh para pimpinan redaksi seluruh Indonesia serta para wakil PWI cabang. Pertemuan menyetujui pembentukan Panitia Ad hoc yang bertugas menyusun kode etik jurnalistik. Panitia Ad hoc dimaksud terdiri dari Suardi Tasrif (Ketua), S. Tahsin (Sekretaris), dan Anggota Moh. Said, Sjarif Sulaiman, dan Supeno. (Foto: www.jakarta.go.id)

Sejarah Dewan Kehormatan PWI (1)

MR MOHAMMAD NATSIR. Kongres PWI Salatiga pada 24 September 1952 membentuk Dewan Kehormatan PWI dengan susunan kepengurusan, H Agus Salim (Ketua), Mr Mohammad Natsir (Wakil Ketua), serta tiga anggota, yakni Prof Mr Soepomo, Roeslan Abdulgani, dan Djawoto.
Salah satu keputusan Kongres VI PWI Salatiga berkenaan dengan pembentukan Dewan Kehormatan PWI menyatakan, “Oleh konperensi dibentuk suatu Dewan Kehormatan, sedapat-dapatnya terdiri dari pemimpin-pemimpin redaksi, ....." (int)

Ketua PWI dari Masa ke Masa

SEJAK berdiri pada 9 Februari 1946, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sudah dipimpin 17 ketua, termasuk ketika terjadi dualisme kepengurusan pada 1970 hingga 1973. Ketua pertama dijabat Soemanang SH (1946-1947), sedangkan ketua PWI ke-17, adalah H Margiono, yang sudah dua periode menjabat, yakni periode 2008-2013 dan 2013-2018. (int)

Makna Lambang PWI

LAMBANG PWI memiliki warna dasar hitam dan berbentuk segi lima, yang melambangkan rangka yang menjadi dasar landasan idiil, yakni Pancasila. Bentuk bagian luar berwarna biru, dengan rangkaian kapas dan padi melambangkan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran yang diperjuangkan oleh organisasi (warna kuning mas). (int)

Sekilas Sejarah Pers Nasional

Dalam sejarah mencapai Indonesia merdeka, wartawan Indonesia tercatat sebagai patriot bangsa bersama para perintis pergerakan di berbagai pelosok Tanah Air yang berjuang untuk menghapus penjajahan. Di masa pergerakan, wartawan bahkan menyandang dua peran sekaligus, sebagai aktivis pers dan sebagai aktivis politik.

----------------

Sekilas Sejarah Pers Nasional

Oleh: Tribuana Said

- Dikutip dari website resmi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) http://pwi.or.id//
- http://pwi.or.id/index.php/Sejarah/Sekilas-Sejarah-Pers-Nasional.html/
- Selasa, 15 September 2009

I. Demi Indonesia Merdeka

Dalam sejarah mencapai Indonesia merdeka, wartawan Indonesia tercatat sebagai patriot bangsa bersama para perintis pergerakan di berbagai pelosok Tanah Air yang berjuang untuk menghapus penjajahan.

Di masa pergerakan, wartawan bahkan menyandang dua peran sekaligus, sebagai aktivis pers yang melaksanakan tugas-tugas pemberitaan dan penerangan guna membangkitkan kesadaran nasional, dan sebagai aktivis pol…