Selasa, 30 November 2010

PWI Sulsel Gelar Diskusi Publik

PWI Sulsel Gelar Diskusi Publik

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulsel akan mengadakan diskusi publik, di Hotel Clarion, Makassar, Rabu, 8 November 2010, dengan menghadirkan pakar komunikasi politik Prof Cipta Lesmana, mantan Kapolda Sulsel Sisno Adiwinoto, Gubernur Sulsel Dr Syahrul Yasin Limpo, Ketua PWI Pusat Margiono.

Sekretaris Panitia, Supriadi Syarifuddin kepada wartawan di Gedung PWI Sulsel, Selasa, 30 November 2010, mengatakan, acara diskusi publik akan dipandu langsung Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh.

Diskusi publik mengangkat tema ''Peran Pers dalam Pencitraan Daerah'', dengan sub-tema ''Demonstrasi Duluan Baru Wartawan Tiba dan Sebaliknya Wartawan Tiba Duluan Baru Demonstran.''


''Diskusi publik ini merupakan rangkaian acara pelantikan pengurus PWI Sulsel periode 2010-2014, yang sekaligus juga dilakukan pelantikan pengurus Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI Sulsel, dan pengurus Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) PWI Sulsel, tapi pelantikan pengurus IKWI terpisah tempatnya,'' jelas Supriadi.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, kritikan, dan saran anda di blog http://pwi-sulsel.blogspot.com]

Senin, 29 November 2010

Pengurus PWI Sulsel Dilantik 8 Desember 2010


Sekretaris Panitia Pelantikan, Supriadi Syarifuddin, mengatakan, pengurus baru Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulsel periode 2010-2014, pengurus Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI Sulsel, dan pengurus Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) PWI Sulsel, akan dilantik di Hotel Clarion, Makassar, Rabu, 8 November 2010.


--------------------

Pengurus PWI Sulsel Dilantik 8 November 2010

Oleh Asnawin

Pengurus baru Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulsel periode 2010-2014, pengurus Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI Sulsel, dan pengurus Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) PWI Sulsel, akan dilantik di Hotel Clarion, Makassar, Rabu, 8 November 2010.

Pelantikan akan dirangkaikan dengan acara diskusi publik dengan menghadirkan pakar komunikasi politik Prof Cipta Lesmana, mantan Kapolda Sulsel Sisno Adiwinoto, Gubernur Sulsel Dr Syahrul Yasin Limpo, Ketua PWI Pusat Margiono.

''Acara akan dipandu langsung Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh,'' kata Sekretaris Panitia Pelantikan, Supriadi Syarifuddin, kepada wartawan di Gedung PWI Sulsel, Senin, 29 November 2010.

Diskusi publik mengangkat tema ''Peran Pers dalam Pencitraan Daerah'', dengan sub-tema ''Demonstrasi Duluan Baru Wartawan Tiba dan Sebaliknya Wartawan Tiba Duluan Baru Demonstran.''

Pengurus PWI Sulsel dan pengurus DKD PWI Sulsel periode 2010-2014 ini merupakan hasil Konfercab PWI Sulsel di Gedung PWI Sulsel, Makassar, 30 Oktober 2010. Dalam Konfercab, Ketua PWI terpilih adalah Zulkifli Gani Ottoh (harian Fajar), sedangkan Ketua DKD terpilih adalah Ronald Ngantung (harian Tribun Timur).

Zulkifli Gani Ottoh bersama Ketua DKD PWI Sulsel Ronald Ngantung dan Hasan Kuba sebagai formatur kemudian menyusun pengurus harian PWI Sulsel yang diketuai Zulkifli Gani Ottoh, Sekretaris Mappiar (harian Ujungpandang Ekspres), Bendahara Nurhayana (tabloid Fajar Pendidikan).

Wakil Ketua Bidang Organisasi Hasan Kuba (tabloid Lintas), Wakil Ketua Bidang Pendidikan Nur Syamsu Sultan (TVRI Sulsel), Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan Rifai Manangkasi (tabloid Borgol), Wakil Ketua Bidang Kesejahteraan Herry Kontessa.

Wakil Sekretaris Anwar Mahendra (SKU Makassar Press), dan Andi Amran (RRI Makassar), serta Wakil Bendahara Selly Lestari (SKU Matahari).

Pengurus Pleno antara lain Asnawin (Ketua Seksi Organisasi), Gunt Sumedi (Ketua Seksi Pendidikan), dan Rahman (Ketua Seksi Wartawan Olahraga/SIWO).

Sementara pengurus DKD PWI Sulsel terdiri atas Ketua Ronald Ngantung, Sekretaris Andi Pasamangi Wawo, anggota Andi Syahrir Makkuradde, Yonatan Mandiangan, dan Piet Heriyadi Sanggelorang.

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, kritikan, dan saran anda di blog http://pwi-sulsel.blogspot.com]

Jumat, 26 November 2010

Cetak Wartawan Berkualitas Melalui Pendidikan

Cetak Wartawan Berkualitas Melalui Pendidikan

Pengurus PWI Sulsel foto bersama Ketua DPRD Sulsel, di ruang kerja Ketua DPRD Sulsel, Rabu, 24 November 2010. (foto: tamsir)

Harian Fajar, Makassar
Kamis, 25 November 2010
http://metronews.fajar.co.id/read/110501/61/cetak-

MAKASSAR -- Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh, menyebutkan bahwa kualitas dan profesionalisme sumber daya manusia wartawan, masih banyak yang belum memenuhi kriteria yang diharapkan. Khususnya dalam membuat laporan baik cetak maupun elektronik. Masih perlu mengikuti pendidikan jurnalis guna mencetak wartawan berkualitas.

Hal ini diungkap Zulkifli saat bertemu Ketua DPRD Sulsel, HM Roem, Rabu, 24 November. Zulkifli didampingi sejumlah pengurus teras PWI Sulsel periode 2010-2015.

"Salah satu program utama pengurus PWI 2010-2015 adalah sekolah jurnalisme. Sulsel merupakan provinsi kelima yang memprogramkan sekolah jurnalisme di Indonesia," ujar Zulkifli.

Untuk menjalankan program dalam rangka meningkatkan kualitas SDM wartawan di Sulsel ini, Zulkifli menyebutkan kalau PWI telah melakukan kerja sama dengan Pemprov Sulsel.

Program pendidikan bagi wartawan di PWI Sulsel ini agendanya berlangsung selama satu bulan pada setiap angkatan. Zulkifli yakin, kelemahan yang dialami wartawan saat ini sedikit bisa teratasi jika mereka mengikuti pendidikan wartawan.

"Setidaknya persoalan 'okkot' tidak ada lagi," kata Zulkifli.

Pengurus PWI Sulsel periode 2010-2015 dilantik pada 8 Desember mendatang. Kemarin, pengurus terpilih sengaja menggelar silaturahmi dengan Ketua DPRD Sulsel, Ketua Pengadilan Tinggi Makassar, Kepala Kejati Sulsel, dan Kepala Polda Sulsel.

Ketua Bidang Pendidikan PWI Sulsel, Nursyamsu Sultan, menambahkan, selain pendidikan kewartawanan, PWI juga telah memprogramkan langguage centre bagi wartawan di daerah ini. Pusat bahasa ini nantinya akan memberikan kesempatan wartawan untuk mengikuti pendidikan bahasa khususnya Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. (sah)

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, kritikan, dan sarannya di blog http://pwi-sulsel.blogspot.com]

Sabtu, 13 November 2010

PWI Sulsel akan Tertibkan Wartawan

PWI Sulsel akan Tertibkan Wartawan

Haria
Sabtu, 13-11-2010
http://www.ujungpandangekspres.com/index.php?option=read&newsid=56315

MAKASSAR,UPEKS— Pengurus baru Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulsel, rencananya akan menertibkan wartawan anggota PWI yang dinilai telah melanggar kode etik jurnalistik Indonesia dan Peraturan Dasar Rumah Tangga PWI.

Tidak hanya itu, ternyata ada sejumlah wartawan anggota PWI yang kabarnya telah menyalahgunakan kartu anggota mereka.

''Pengurus baru PWI Sulsel akan tegas dan keras untuk melakukan penertiban anggota kami (PWI Sulsel, Red) yang melanggar kode etik jurnalistik. Pertimbangannya, diterima kabar, ada anggota, turun ke lapangan, padahal surat kabar mereka sudah tidak terbit lagi. Itulah yang membuat kita harus tegas untuk menertibkan mereka, demi menjaga citra PWI,” kata Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh di kantor PWI Sulsel Jumat (12/11).

Zulkifli menegaskan, jika dalam penertiban ditemukan adanya wartawan yang memang melanggar kode etik dan peraturan dasar rumah tangga PWI, pihaknya akan menindaki mereka dengan peringatan keras, menon-aktifkan selama 2 tahun dan membatalkan kartu anggotanya, ujar Zulkifli.

Berdasarkan laporan dan masukan dari masyarakat, lanjut Zulkifli, ada beberapa anggota PWI yang suka mengganggu sekolah dan sejumlah Instansi publik dalam artian menjadi calo seperti di Samsat, di Pelindo, menjadi pengurus SIM dan sebagainya.

“Kami tidak mau ada anggota PWI yang menjadi calo di beberapa instansi. Seharusnya mereka dapat bekerja secara profesional sebagai wartawan karena wartawan itu adalah orang intelek,” tegas Zulkfli.

Untuk itu, kedepannya PWI akan memberikan surat edaran kepada seluruh instansi publik untuk melapor ke pihak yang berwajib, jika menemukan ada wartawan, khususnya anggota PWI yang menjadi calo.


Terima kasih atas kunjungan, komentar, kritikan, dan sarannya di blog http://pwi-sulsel.blogspot.com.

Jumat, 12 November 2010

Jangan Perjualbelikan Kartu PWI

Jangan Perjualbelikan Kartu PWI

Harian Fajar, Makassar
Jumat, 12 November 2010
http://metronews.fajar.co.id/read/109708/61/-zugito-jangan-perjualbelikan-kartu-pwi

KETUA Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulawesi Selatan, Zulkifli Gani Ottoh atau yang biasa disapa Zugito berharap pengurus dan anggota PWI tidak memperjualbelikan kartu PWI. Dia juga meminta bidang organisasi PWI melakukan penertiban oknum yang hanya mendompleng di PWI.

Zugito mengungkapkan hal ini saat rapat pengurus di kantor PWI Sulsel, Jalan AP Pettarani, Jumat, 12 November. Menurut Zugito yang terpilih kembali pekan lalu, dia prihatin dan malu melihat pemegang kartu PWI yang tidak jelas. Misalnya penjual pakaian bekas, penjual bakso, hingga buruh di pelabuhan.

"Tolong bidang organisasi tertibkan yang hanya mendompleng di PWI ini. PWI ke depan harus lebih maju dari organisasi wartawan lainnya. Niat harus bagus," katanya di hadapan pengurus periode 2010-2015.

Pada kesempatan ini, Zugito juga menyampaikan rencana pelantikan 92 pengurus PWI Sulsel di Clarion Hotel and Convention pada 8 Desember mendatang.

Menurutnya, pelantikan akan dihadiri Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, pengurus pusat PWI, dan Prof Cipto Lesmana. Cipto dihadirkan khusus untuk memberi penyegaran jurnalistik kepada pengurus dan anggota PWI.

"Yang akan dilantik adalah pengurus harian, Dewan Kehormatan Daerah (DKD), hingga ibu-ibu IKWI (Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia)," kata dia.

Usai pelantikan, akan dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Nurul Qalam di samping kantor PWI Sulsel. "Ke depan, kita juga akan membangun bilik-bilik untuk kantor media-media yang belum punya tempat tetap. Yang pasti PWI ke depan akan lebih ramai apalagi jika sekolah jurnalisme sudah berjalan di kantor PWI," kata Zugito. (amr)

Kamis, 11 November 2010

Lima Tahun Bukanlah Waktu yang Singkat

Lima Tahun Bukanlah Waktu yang Singkat

Oleh Asnawin
(Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel periode 2006-2010)

Masa bakti Presiden Amerika Serikat 'hanya' empat tahun. Para Bapak Bangsa Amerika pasti sudah memperhitungkan dengan matang bahwa waktu empat tahun sudah cukup bagi seorang Presiden AS untuk berbuat. Tidak perlu sampai lima tahun.

Di negara kita, Indonesia, masa jabatan presiden, gubernur, walikota, dan bupati bukan empat tahun, melainkan lima tahun. Banyak organisasi di negara kita juga mematok periode kepengurusan lima tahun.

Salah satu organisasi yang mematok periode kepengurusan lima tahun adalah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Lima tahun tentu bukanlah waktu yang singkat.

Sebenarnya lima tahun itu terlalu lama, karena pasti banyak yang terjadi dalam lima tahun, sehingga perlu berbagai macam penyesuaian dalam perjalanan sebuah organisasi.

Ada beberapa catatan yang ingin saya sampaikan terkait periode kepengurusan lima tahun itu. Pertama, Ketua PWI (pusat atau cabang) terpilih hendaknya selektif memilih orang-orang yang akan dimasukkan dalam pengurus harian dan pengurus pleno.

Jangan sampai pertimbangannya hanya untuk ''balas jasa'' kepada orang-orang yang tiba-tiba begitu dekat dan menjadi pendukung utama saat konferensi. Sebaiknya, ketua terpilih memilih orang yang memiliki kompetensi di bidang atau pada seksi tertentu, terutama bila pada periode sebelumnya telah terbukti mau dan mampu bekerja dengan baik.

Tidak semua anggota organisasi atau pengurus lama yang mau atau mampu mencari simpati atau masuk dalam ''tim sukses'' saat konferensi, tetapi itu bukan berarti mereka tidak mendukung ketua terpilih. Mereka mungkin hanya tidak ingin masuk dalam salah satu ''kubu'' dan memilih netral. Jadi, janganlah memposisikan mereka sebagai bukan teman, apalagi menganggap mereka sebagai ''lawan''. Bahkan kepada mereka yang terang-terangan bukan pendukung calon ketua terpilih pun, sebaiknya jangan dimusuhi. Kalau perlu ajak mereka berbicara dari hati ke hati untuk kepentingan organisasi ke depan.

Kedua, buatlah program yang benar-benar dibutuhkan anggota PWI, terutama pendidikan dan peningkatan kualitas wartawan, serta upaya peningkatan kesejahteraan wartawan. Peningkatan kualitas wartawan diharapkan dapat berdampak positif terhadap kualitas isi pemberitaan yang selanjutnya dapat meningkatkan jumlah pembaca media cetak, pendengar radio, serta pemirsa televisi.

Ketiga, mungkin tidak ada salahnya kalau PWI juga melakukan kerjasama dengan pemerintah, instansi, serta lembaga atau organisasi lain untuk mengadakan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Ini penting dilakukan agar PWI memiliki ''banyak teman'' dan juga diterima di semua kalangan.

Mengakhiri tulisan singkat ini, saya ingin mengingatkan kembali kepada ketua dan pengurus PWI bahwa lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Butuh nafas panjang, keseriusan, dan kerja nyata untuk menjaga eksistensi dan nama baik organisasi.

Karya Tulis Wartawan Sangat Bermanfaat

Karya Tulis Wartawan Sangat Bermanfaat


Keterangan gambar: Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (kiri) menyalami Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel, Asnawin, pada acara penyerahan hadiah juara Lomba Karya Tulis Jurnalistik HUT ke-341 Provinsi Sulawesi Selatan, di Kantor Gubernur Sulsel, Makassar, Kamis, 11 November 2010. (foto: m nasir/humas pemprov sulsel)


Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengatakan, karya tulis dan karya foto wartawan akan sangat bermanfaat dan menjadi sebuah memori dari tahun ke tahun yang kita lewati bersama.

Pernyataan tersebut diungkapkan Syahrul pada penyerahan hadiah kepada para juara Lomba Karya Tulis Jurnalistik dan Lomba Foto Jurnalistik dalam rangka HUT ke-341 Provinsi Sulawesi Selatan, di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, Kamis, 11 November 2010.

Penyerahan hadiah dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel Patabai Pabokori, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel dr Abdul Latief, Kepala Biro Humas dan Protokol Agus Sumantri, serta sejumlah pejabat dan undangan.

''Media adalah segalanya. Sekarang ini era media. Uni Sovyet kalah dari Amerika bukan karena letusan senjata, tetapi karena pencitraan. Jadi sekarang ini adalah eranya perang pencitraan,'' katanya.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Sulsel Agus Sumantri mengatakan, lomba tersebut bertujuan memberikan motivasi kepada para jurnalis dan fotografer.

''Insya Allah lomba ini akan dijadikan kalender tahunan yang dirangkaikan dengan Hari Ulang Provinsi Sulawesi Selatan,'' katanya.

Agus menambahkan, lomba Karya Tulis dengan tema ''Peranan Pendidikan dan Kesehatan Gratis dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Masyarakat Sulawesi Selatan'' diikuti 20 peserta, sedangkan lomba Foto Jurnalistik HUT dengan tema ''Potensi-potensi Positif Provinsi Sulawesi Selatan'' diikuti 41 peserta (205 karya foto).

Kabag Humas Biro Humas dan Protokol Setprov Sulsel Lukmanuddin mengatakan, lomba karya tulis jurnalistik dalam rangka Hari Jadi ke-341 Sulawesi Selatan, dengan topik ''Sulsel Menulis untuk Hari Jadi ke-341'', terbuka untuk umum.

''Lomba karya tulis jurnalistik dan lomba foto ini terbuka untuk umum, tetapi karya yang diikutkan lomba harus sudah pernah termuat di media cetak,'' jelasnya.

Khusus lomba fotografi Bidik Sulsel, syaratnya karya foto belum pernah dipublikasikan dan juga belum pernah diikutkan lomba. Peserta diberi kebebasan dalam memilih objek yang memiliki potensi positif pada 24 kabupaten dan kota se-Sulsel. Setiap peserta dapat mengirim maksimal lima foto dalam bentuk cetak 5R dan soft copy.

Para Juara

Juara pertama lomba karya tulis jurnalistik direbut Ahmad M Sidik (wartawan harian Berita Kota Makassar). Tulisannya yang berjudul ''Pendidikan-Kesehatan Gratis Solusi Masa Depan Sulsel'', dimuat di harian Berita Kota Makassar, pada hari Rabu, 20 Oktober 2010.

Juara kedua Buyung Maksum (wartawan harian Fajar) dengan judul tulisan ''Saya Sulsel dan Saya Bangga, -Refleksi 18 Bulan Perda Gratis'' yang dimuat di harian Fajar, pada hari Selasa, 19 Oktober 2010.

Wartawan harian Tribun Timur, Tasman Banto, keluar sebagai juara ketiga dengan judul tulisan ''Pendidikan Gratis, Belum semua Gratis'', yang dimuat harian Tribun Timur pada hari Senin, 18 Oktober 2010.

Staf pengajar Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Makassar, Andi Muhammad Irawan, keluar sebagai juara harapan I. Tulisannya yang berjudul ''Pendidikan Gratis di Ultah ke-341 Sulsel, termuat di harian Tribun Timur pada hari Selasa, 19 Oktober 2010.

Juara harapan II direbut Asnawin, Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel. Tulisannya berjudul ''Kuncinya Political Will dan Komitmen, -Catatan Atas Program Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel'', dimuat harian Fajar, Rabu, 20 Oktober 2010.

Aktivis hak anak, Rusdin Tompo, keluar sebagai juara harapan III dengan tulisan berjudul ''Sekolah Gratis yang Membebaskan'' yang dimuat harian Fajar, Kamis, 14 Oktober 2010. (asnawin)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Rabu, 10 November 2010

Organisasi Pers Evaluasi Kinerja DPRD Makassar

Organisasi Pers Evaluasi Kinerja DPRD Makassar

Selasa, 09 November 2010
http://makassar.antaranews.com/berita/21448/organisasi-pers-evaluasi-

Makassar (ANTARA News) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Makassar melakukan evaluasi kinerja kepengurusan mereka selama setahun melalui diskusi publik yang melibatkan tokoh pers, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga sosial kontrol lainnya.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan, Zulkifli Gani Ottoh yang menjadi pemateri dalam pertemuan itu memberikan apresiasi khusus terhadap upaya sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar yang mencoba membuka diri dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat dan beberapa organisasi sosial kontrol lainnya.

"Adanya upaya transparansi yang dilakukan kepengurusan DPRD Kota Makassar periode ini merupakan sebuah langkah maju, yang diharapkan bisa diikuti oleh lembaga legislatif lainnya di daerah ini," kata Zulkifli saat menjadi pembicara dalam diskusi publik dalam rangka HUT ke-403 Kota Makassar dan refleksi setahun kinerja DPRD kota Makassar periode 2009-2014, di Makassar, Senin, 8 November 2010.

Ketua Pengurus Daerah Perhimpunan Jurnalistik Indonesia (PJI) Sulsel, Nasrullah Nara dalam kesempatan itu melihat para legislator di kota Makassar perlu melakukan terobosan-terobosan dalam mengawal pembangunan di daerah ini.

Apalagi, lanjut dia, adanya pemikiran-pemikiran legislator muda dalam kepengurusan DPRD kota Makassar seharusnya bisa membuat terobosan-terobosan dalam menjalankan tugasnya sebagai fungsi legislasi maupun pengawasan terhadap kinerja anggaran daerah di lingkup pemerintah kota Makassar.

Wakil Ketua DPRD Makassar, Syamsu Niang berharap adanya masukan-masukan yang konstruktif dari elemen masyarakat khususnya mahasiswa, LSM, dan kelembagaan pers dalam mengawal setiap keputusan yang dihasilkan dalam mengawal kebijakan di legislatif.

"Kami berharap ada masukan yang lebih konstruktif dari hasil evaluasi yang kami lakukan saat ini. Apalagi diskusi publik yang kami gelar dalam pengurusan ini, satu-satunya bentuk pertanggungjawaban kami terhadap publik," ucap dia. (T.KR-HK/J006)
COPYRIGHT © 2010

Selasa, 09 November 2010

Pernyataan Pers PWI tentang Bencana Alam

Pernyataan Pers PWI tentang Bencana Alam

Senin, 08 November 2010

Sehubungan dengan terjadinya bencana alam beruntun yang terjadi di Tanah Air mulai dari longsor di Wasior, tsunami di Mentawai, dan erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta yang telah menelan korban jiwa ribuan orang, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. PWI menyatakan belangsungkawa dan keprihatinan mendalam terhadap korban yang jatuh dan kepada korban yang selamat dan saat ini terpaksa menetap di pengungsian, agar tetap bersabar dan tabah menjalani ujian ini sampai ke luar dari kesulitan.

2. Wartawan anggota PWI pada khususnya dan media pada umumnya agar terus memperdalam pengetahuan tentang bencana alam dengan segala permasalahannya, sehingga menghasilkan liputan/pemberitaan yang bermanfaat bagi masyarakat baik di tempat bencana maupun di Indonesia pada umumnya.

3. Wartawan yang meliput bencana agar membekali diri dan terus menjaga keselamatan dalam melakukan liputan dan tidak melakukan peliputan yang membahayakan diri sendiri dan juga pihak-pihak lain.

4. Pers nasional diimbau untuk terus menjaga pemberitaan yang akurat, hanya memberitakan prediksi dan opini dari pihak-pihak yang memiliki otoritas dan profesional, serta tidak bersikap spekulatif yang dapat menciptakan kegusaran masyarakat dan juga tidak menyiarkan berita bohong.

5. PWI menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada media yang telah menggalang dana dan menyalurkannya kepada korban bencana dan untuk rehabilitasi kawasan bencana.

Jakarta, 8 November 2010

Pengurus Pusat PWI

Margiono
Ketua Umum

LPDS-Dewan Pers Gelar Lokakarya Piagam Palembang

LPDS-Dewan Pers Gelar Lokakarya Piagam Palembang

Selasa, 09 November 2010
http://pwi.or.id/index.php/Berita-PWI/Lokakarya-Piagam-Palembang

Palembang (ANTARA News) - Lembaga Pers Dr Soetomo bekerjasama dengan Dewan Pers pada Selasa-Rabu (20/10), menggelar Lokakarya Penegakan Produk Dewan Pers-Piagam Palembang yang merupakan sosialisasi kesepakatan ratifikasi kode etik jurnalistik.

"Sosialisasi juga dilakukan terkait standar perusahaan pers, standar perlindungan wartawan dan standar kompetensi wartawan kepada pimpinan media massa di Palembang, Sumatera Selatan," kata Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), Priyambodo RH, di Palembang, Rabu.

Ia menjelaskan bahwa Piagam Palembang yang disepakati pimpinan media massa nasional dan daerah pada puncak Hari Pers Nasional (HPN) di Palembang, 9 Februari 2010 itu, perlu disosialisasikan lagi dimulai dari tempat penandatangannya.

Dalam piagam tersebut, para pimpinan media massa sepakat untuk melaksanakan sepenuhnya kode etik jurnalistik, standar perusahaan pers, standar perlindungan wartawan, dan standar kompetensi wartawan.

"Kesepakatan untuk memberikan mandat kepada Dewan Pers untuk membentuk lembaga independen yang berhak melakukan verifikasi sesuai isi Piagam Palembang itu juga perlu segera ditindaklanjuti," ujar Priyambodo yang juga wartawan senior LKBN ANTARA.

Dalam lokakarya yang diikuti 20-an pimpinan dan pengelola media massa cetak dan elektronik serta online di Sumsel itu, menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Atmakusumah Astraatmadja, mantan Ketua Dewan Pers yang juga pengajar LPDS.

Menurut Priyambodo, fokus pembahasan adalah kode etik jurnalistik dan perlindungan wartawan, standar perusahaan pers, dan standar kompetensi wartawan.

Beberapa pimpinan dan pengelola media massa di Sumsel mengakui, penerapan Piagam Palembang itu walaupun secara bertahap, perlu ditindaklanjuti agar memberikan kontribusi bagi peningkatan dan kemajuan industri pers di daerah maupun secara nasional.

Mereka mengungkapkan pula sejumlah permasalahan yang dihadapi, terutama dialami kalangan pers kecil di daerah-daerah dalam menerapkannya.

Priyambodo juga menyatakan peningkatan kualitas SDM dan profesionalisme wartawan terutama di daerah-daerah perlu terus ditingkatkan.

"Diharapkan dengan menerapkan standar perusahaan pers, standar perlindungan wartawan dan standar kompetensi wartawan, wajah pers kita ke depan akan menjadi lebih baik dan memberikan dampak positif bagi masyarakat maupun negeri ini," kata dia pula. (*)

Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia

Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia

Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Salah seorang mantan wartawan harian Pedoman Rakyat, Abdul Djabbar Pattisahusiwa atau lebih akrab dipanggil Abu Pattisahusiwa, meninggal dunia dalam usia 73 tahun di Makassar, Senin malam, 8 November 2010, dan dimakamkan keesokan harinya di pemakaman Islam Sudiang, Makassar.

Abu Pattisahusiwa yang lahir di Maluku, 15 Mei 1937, meninggalkan seorang isteri (Hj Halidjah Sanaki), lima anak, dan delapan cucu.

Salah seorang putrinya, Nur Fajriah, mengatakan ayahnya sudah lama terkena stroke dan praktis dalam dua bulan terakhir hanya terbaring di tempat tidur.

''Ayah kami sudah lama sakit, sejak terjatuh kedua kalinya, ayah hanya bisa terbaring di tempat tidur,'' ungkapnya kepada penulis.

Sejumlah mantan wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat turut melayat di rumah duka, sehingga terjadi reuni kecil-kecilan.

Dengan meninggalnya Abu Pattisahusiwa maka kini tinggal beberapa orang wartawan senior harian Pedoman Rakyat (harian Pedoman Rakyat terbit sejak 1 Maret 1947 dan terbit terakhir pada 2 Oktober 2007) yang masih hidup. Wartawan senior harian ini yang telah meninggal dunia, antara lain LE Manuhua (25 November 2010), Buce Rompas (4 November 2009), dan Petrus Beda (2010).

Wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat yang meninggal dunia dalam empat tahun terakhir, yaitu Hasanuddin alias Hanter (wartawan), Usman Sanaki (karyawan), Arthur Kuse (wartawan), Abdul Latif (karyawan), Indarto (wartawan / 10 Mei 2009), L.F. Sahertian (karyawan / 25 Juli 2009), dan J B Pinontoan (mantan Direktur Utama PT Media Pedoman Jaya / 19 April 2010).

Abu Pattisahusiwa bergabung di Pedoman Rakyat sejak tahun 50-an. Wartawan senior Pedoman Rakyat (PR), Verdy R Baso, mengatakan, almarhum Abu Pattisahusiwa jauh lebih dahulu bergabung di harian 'PR' dibandingkan dirinya.

''Saya bergabung di PR pada tahun 1969. Sebelum bergabung di PR, saya adalah wartawan harian Tegas. Pak Abu sudah lama di PR, mungkin beliau hampir seangkatan dengan Pak Manuhua,'' kata Verdy.

Trio

Verdy mengatakan, selama puluhan tahun bersama-sama di PR, tak pernah sekalipun Pak Abu bermasalah, karena orangnya tidak banyak bicara dan juga tidak pernah macam-macam.

''Beliau itu pekerja dan tenang sekali, jarang bicara. Orangnya baik sekali. Beliau cukup lama menjadi wartawan ekonomi. Jabatan terakhirnya di PR adalah Redaktur Pelaksana. Saya bersama beliau dan Pak Yasmin Tendan bergantian membuat tajuk rencana,'' paparnya.

Ketika masih aktif meliput di lapangan, Abu Pattisahusiwa selalu jalan bersama dengan dua sahabatnya, yakni Piet Langarin (Tabloid Gema) dan Tawakkal Tallu (RRI Makassar). Kedua rekannya itu juga sudah meninggal dunia.

''Mereka bertiga dikenal sebagai trio, karena selalu pergi meliput bersama-sama,'' ungkapnya.

Informasi tersebut dibenarkan oleh H Murtadji, Kepala Sekretariat PWI Cabang Sulsel.

''Mereka benar-benar trio dan sahabat kental,'' katanya. (asnawin)


[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Rabu, 03 November 2010

Ketua PWI, Pimpinan Media dan Parpol Jadi Pembicara

Pertemuan Politikus Muda se-Indonesia:
Ketua PWI, Pimpinan Media dan Parpol Jadi Pembicara


Harian Fajar, Makassar
Rabu, 3 November 2010
http://news.fajar.co.id/read/108992/41/politikus-muda-gagas-

JAKARTA -- Sembilan pimpinan partai politik besar akan menjadi pembicara dalam pertemuan pemuda politikus yang berlangsung 3-4 November. Mereka adalah pimpinan partai politik yang mendudukkan kadernya di DPR RI periode 2009-2014.

Mereka adalah Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaaq, Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa.

Selain itu, akan tampil pula Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Ketua Umum PPP Suryadharma Ali, dam Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Ketua Panitia Hendra J Kede, dalam jumpa persnya di kantor Dewan Pers, Senin, 1 November, mengatakan pimpinan parpol itu akan tampil dalam kesempatan berbeda. Mereka juga akan membahas masalah yang berbeda.

Selain pimpinan parpol besar, pimpinan media massa juga akan menjadi pembicara dalam acara tersebut. Mereka adalah Jacob Oetama dari Kompas Gramedia Group, Chaerul Tanjung dari Trans Group, Ketua Umum PWI Margiono.

Selain itu, Direktur Pemberitaan tvOne, Karni Ilyas juga akan memberikan materi. Ada juga Jimmy Silalahi dari ATVLI dan pimpinan Jawa Pos Group. Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan Sosiolog Imam B Prasodjo juga akan menjadi pembicara.

Pertemuan pemuda politikus tersebut rencananya akan dihadiri sekira 1500 orang dari seluruh Indonesia. Mereka adalah anggota DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, dan DPR RI yang berusia di bawah 30 tahun.

Selain akan mengikuti diskusi panel dengan pembicara pimpinan parpol besar serta pimpinan media, politikus muda tersebut juga akan mengucapkan tekad bersama. Panitia menyebutnya, "Tekad Suci untuk Indonesia."

Pengucapan tekad suci itu rencananya akan disampaikan di Jakarta International Expo, Kemayoran. Seluruh bupati, wali kota, gubernur, hingga presiden direncanakan akan menyaksikan langsung pengucapan tekad suci tersebut.

Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh mengatakan dari Sulsel ada 45 orang yang akan menjadi peserta. Mereka berasal dari berbagai kabupaten/kota di Sulsel. Di DPRD Sulsel, setidaknya ada dua orang yang akan menjadi peserta. Keduanya adalah Adnan Purichta Ichsan (Partai Demokrat) dan Andi Awwal Muin (PPDI).(sap)

Selasa, 02 November 2010

Burhanuddin Mampo: Kami Tetap Cinta PWI Sulsel

Burhanuddin Mampo: Kami Tetap Cinta PWI Sulsel

Oleh Asnawin

Konferensi Cabang (Konfercab) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan telah selesai dan juga telah terpilih pengurus harian, serta pengurus Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI Sulsel periode 2010-2015.

Di kepengurusan PWI Sulsel, trio Zulkifli Gani Ottoh, Mappiar HS, dan Nurhayana Kamar tetap menduduki jabatan sebelumnya yakni ketua, sekretaris, dan bendahara. Tidak ada perubahan.

Sementara jabatan Ketua DKD PWI Sulsel diduduki Ronald Ngantung dari harian Tribun Timur, Makassar. Laode Arumahi yang menjadi saingannya dalam pemilihan Ketua DKD dan semula diprediksi menjadi Sekretaris DKD, ternyata dijadikan sebagai salah seorang di antara sebelas penasehat PWI Sulsel.

Berbeda dengan kepengurusan PWI Sulsel yang mempertahankan trio Zulkifli, Mappiar, dan Nurhayana sebagai ketua, sekretaris, dan bendahara, dalam kepengurusan DKD PWI Sulsel tak satu pun pengurus lama yang dipertahankan, semuanya ''orang baru.''

Menanggapi komposisi kepengurusan PWI Sulsel dan DKD PWI Sulsel, mantan Bendahara PWI Sulsel Burhanuddin Mampo mengatakan, sebagai anggota PWI Sulsel dirinya bersama anggota PWI Sulsel yang tidak masuk dalam kepengurusan tetap mencintai PWI Sulsel.

''Meskipun tidak masuk dalam kepengurusan, kami tetap cinta PWI Sulsel. Jangan ragukan ke-PWI-an kami,'' katanya dalam bincang-bincang dengan pendiri dan pengelola blog pwi-sulsel.blogspot.com, di Makassar, Rabu, 3 November 2010.

Mantan Kepala Stasiun RRI Tual, Maluku Utara, berharap pengurus baru dapat bekerja lebih baik dibandingkan pengurus lama, dengan membuat program kerja yang benar-benar sesuai kebutuhan.

Pengurus baru diharapkan tetap mengutamakan program pendidikan untuk peningkatan kualitas anggota PWI Sulsel, serta berupaya membina hubungan dan kerjasama yang baik dengan media massa, khususnya media cetak mingguan dan majalah yangterbit di Sulsel.

''Kami siap membantu untuk pembinaan dan peningkatan kualitas anggota PWI Sulsel, serta pembinaan dan kerjasama dengan media cetak mingguan dan majalah, baik melalui PWI Sulsel maupun melalui forum atau lembaga lain,'' tandas Burhanuddin Mampo.

Senin, 01 November 2010

Hujan Interupsi Warnai Konfercab PWI Sulsel

Hujan Interupsi Warnai Konfercab PWI Sulsel

Harian Parepos, Parepare
Selasa, 1 November 2010
http://www.parepos.co.id/read/32940/35/zugito-oppo-pimpin-pwi-sulsel

PAREPARE -- Zulkifli Gani Ottoh akhirnya "Oppo" memimpin PWI Cabang Sulsel periode 2010-2015 dalam Konferensi Cabang (Konfercab) PWI di Gedung PWI Jalan AP Pettarani, Makassar.

Sementara Ronald Ngantung terpilih sebagai Ketua Dewam Kehormatan Daerah (DKD) PWI Sulsel menggantikan H Syamsu Nur. Konfercab yang dibuka Gubernur Sulsel DR H Syahrul Yasin Limpo, Sabtu pagi berlangsung alot hingga Ahad dini hari, kemarin.

Zugito sapaan akrab Zulkifli Gani Ottoh (Fajar Group) unggul dengan perolehan 271 suara dari 493 suara sah. Sedangkan rivalnya, Burhanuddin Amin (Inpos Group) hanya mengumpulkan 222 suara.

Usai pembukaan, konfercab dilanjutkan dengan pembahasan tata tertib. Sidang dipimpin Drs HL Arumahi didampingi Sekretaris Nurhayana Kamar SE, dan Drs Asnawin sebagai anggota sempat "dihujani" interupsi dari sejumlah peserta konfercab.

Ada beberapa poin yang sempat dipertanyakan sejumlah peserta, namun demikian, pimpinan sidang memberikan jawaban yang dapat dipahami para peserta konfercab.

Peserta konfercab terdiri dari Anggota biasa sebagai peserta penuh, anggota muda, dan anggota kehormatan sebagai peserta peninjau. Setelah laporan pertanggungjawaban pengurus PWI Cabang Sulsel periode 2006-2010 diterima peserta konfercab, pengurus dinyatakan demisioner.

Di saat pimpinan sidang diambilalih utusan PWI Pusat Atang Sianipar. Interupsi peserta pun terdengar yang menanyakan jumlah dan siapa serta mewakili siapa pimpinan sidang yang akan mendampingi utusan PWI pusat. Perdebatan agak panjang, karena masing-masing peserta bersikukuh ingin menampilkan wakilnya sebagai salah satu pimpinan sidang.

Namun, demikian konfercab menyepakati jumlah pimpinan sidang 5 orang terdiri Atang Sianipar (Utusan PWI Pusat), Ibrahim Manisi (PWI Perwakilan), Andi Tenri Palallo (Gender), Lufti Kadir (wartawam senior), dan Nursaman (surat kabar mingguan).

Pimpinan sidang inilah yang mengantarkan konfercab pada tahap penjaringan calon Ketua PWI Cabang Sulsel dan Ketua Dewan Kehormatan Daerah (DKD) Sulsel.

Setelah dinyatakan terpilih, Zugito menyatakan rasa syukurnya kepada Allah SWT dan terima kasih kepada peserta yang telah menyukseskan konfercab PWI. Dia menyatakan kepercayaan yang diberikan kepadanya merupakan beban yang harus dipikul bersama pengurus lainnya nanti.

"Apalah artinya saya ini kalau tidak mendapat dukungan dari segenap pengurus dan anggota PWI lainnya," kata Zugito. Sementara Syamsu Nur dalam laporan pertanggungjawabannya selaku Ketua Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI Sulsel, menyatakan jika dirinya tidak bersedia lagi dipilih menjadi Ketua DKD PWI.

"Rasanya sudah cukup lima tahun itu, silakan pilih teman yang lain," ucapnya dengan senyum khas.

Konfercab PWI dihadiri Ketua Umum PWI Pusat H Margiono, Ketua Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI H Syamsu Nur, sejumlah wartawan senior, serta ratusan peserta Konfercab. Agenda Konfercab, selain laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2006-2010, penyusunan program kerja, dan pemilihan pengurus periode 2010-2015. (rir)

Sulsel Harus Bebas dari “Wartawan Koboi”

Sulsel Harus Bebas dari “Wartawan Koboi”

Harian Ujungpandang Ekspres, Makassar
Senin, 01-11-2010
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=55517

Zulkifli Gani Ottoh akhirnya terpilih kembali memimpin organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel, periode 2010-2015, melalui Konferensi Cabang (Konfercab), Sabtu (30/10). Apa saja program-program kerja yang akan dilaksanakan selama lima tahun ke depan? Berikut petikan wawancara wartawan Harian Ujungpandang Ekspres, Dewi Yuliani, dengan Zulkifli Gani Ottoh (Zugito), di Kantor PWI Sulsel, Minggu (31/10).

Upeks: Pada Konferensi PWI Cabang Sulsel kemarin, Bapak sudah terpilih kembali menjadi Ketua PWI Sulsel periode 2010-2015. Tetapi, masih banyak yang tidak menerima hasil konfercab. Bagaimana Bapak menyikapi hal itu?

Zugito: Pertama-tama, Alhamdulillah, karena teman-teman di PWI mayoritas memberikan kepercayaan kepada saya kembali menjadi Ketua PWI Sulsel. Saya rasa perbedaan merupakan hal yang wajar, apalagi bagi organisasi yang pemilihan ketuanya menggunakan sistem demokrasi. Tetapi, yang harus dipahami, PWI merupakan organisasi yang berbeda dengan organisasi lainnya.

Di organisasi kewartawanan ini, yang paling utama adalah pengabdian, bukan kepentingan pribadi atau kelompok. Pada konfercab kemarin, memang berlangsung alot, bahkan pemilihan baru berakhir pukul 03.00 WITA, Minggu (31/10). Namun tetap berlangsung secara demokrasi. Mereka yang menggunakan hak pilihnya, memilih berdasarkan hati nurani.

Dari 600 anggota PWI Sulsel, sekira 466 menggunakan hak pilihnya. Sekira 65% anggota PWI telah memberikan amanah kepada saya. Nah, kalaupun ada yang tidak setuju atau tidak mendukung, itu biasa. Asal, jangan menjelek-jelekkan. Mari kita bersama-sama membawa organisasi ini dan wartawan agar lebih maju lagi.

Upeks: Program-program kerja apa saja yang akan Bapak lakukan untuk lima tahun ke depan?

Zugito: Ada empat program pokok yang akan saya laksanakan.

Pertama, masalah pendidikan untuk wartawan. Insya Allah, awal tahun depan, kami akan menggelar Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI), bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel dalam hal ini Dinas Pendidikan Sulsel. Memorandum of Understanding (MoU) sudah ditandatangani Gubernur Sulsel.

SJI akan menghasilkan wartawan muda yang berkualitas, berwawasan dan beretika. Semua materi kewartawanan akan diajarkan, termasuk bagaimana menaati Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Selain itu, ada pendidikan yang akan digelar internal PWI ataupun bekerjasama dengan pihak ketiga. Semua itu dilakukan untuk meningkatkan kompetensi wartawan.

Kedua, bidang kesejahteraan. Kita harapkan, semua anggota PWI diperhatikan tingkat kesejahteraannya. PWI akan memantau bagaimana perusahaan-perusahaan pers memberikan kesejahteraan bagi para wartawannya. PWI akan melihat dan memantau, apakah perusahaan pers menaati Undang-undang Nomor 40 tentang Pers. Khususnya, karyawan pers memiliki saham minimal 20%.

Selain itu, secara internal organisasi, PWI juga akan mensejahterakan anggotanya. Misalnya, bekerjasama dengan pihak ketiga, yakni pengusaha perumahan, dibangun perumahan wartawan. Saat ini, sudah ada di Hartako. Sekarang, sedang dibangun lagi di Kabupaten Maros.

Selain itu, bagi wartawan yang memiliki putra dan putri berprestasi, akan disediakan beasiswa untuk mereka. PWI juga memperhatikan janda-janda wartawan dan duda-duda wartawati serta yatim piatu wartawan.

Ketiga, bidang pembelaan wartawan. Tahun 2011, PWI akan memiliki lembaga bantuan hukum, bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI). Lembaga ini akan memantau wartawan-wartawan yang bekerja di tempat kerjanya, apakah perusahaan pers tempatnya mengabdi peduli terhadap mereka. Jika tidak, dan ada keluhan atau laporan dari wartawan yang bersangkutan, kami akan ajukan tuntutan hukum.

Pembelaan atau bantuan pendampingan secara hukum juga akan diberikan bagi wartawan-wartawan yang terlibat masalah hukum karena kegiatan jurnalistiknya. Bukan hanya anggota PWI yang diberikan bantuan hukum, tetapi juga bagi wartawan lain yang bukan anggota PWI.

Keempat, bidang organisasi. Bagi wartawan baru yang akan mendaftar sebagai anggota PWI, akan terlebih dahulu diverifikasi, harus lulus standar kompetensi. Minimal, harus memiliki ijazah D3 dan telah bekerja selama dua tahun di medianya. Sebelum masuk jadi anggota, akan diuji melalui pendidikan di PWI. Wartawan yang memiliki kompetensi, profesional dan punya gaji tetap setiap bulannya bisa ditolerir sebagai anggota PWI.

Selain itu, PWI juga akan mendatabasekan semua wartawan yang ada di Sulsel. Database itu akan dikirimkan ke semua instansi. Setiap tiga bulan, database juga akan diperbaharui. Sistem database harus dilakukan untuk mendukung Piagam Palembang. Apalagi, dua tahun terakhir banyak sekali oknum yang mengaku-ngaku sebagai wartawan. Dengan semua program yang dilaksanakan, PWI akan mengupayakan agar Sulsel bebas dari “wartawan koboi.”

Upeks: Bagaimana dengan anggota PWI sendiri? Sekarang, banyak anggota PWI yang korannya juga sudah jarang terbit dan seringkali menjadi “wartawan koboi”. Bagaimana menata ini?

Zugito: Bagi anggota PWI yang terbukti “menyusahkan” orang lain dengan menjadi “wartawan koboi atau wartawan bodrex” akan ditindak tegas. Untuk menghindari hal itu, peningkatan kualitas dan pembinaan juga akan tetap dilakukan bagi anggota-anggota PWI.

Selain itu, baik media maupun wartawannya akan diberikan logo Dewan Pers, sebagai tanda jika media atau wartawan itu telah disertifikasi. Hal itu pula yang kemudian di-back up dengan program database.

Upeks: Di antara semua program kerja itu, bagaimana bentuk kepedulian PWI terhadap wartawan senior?

Zugito: PWI selalu peduli dan memperhatikan wartawan senior. Penghargaan setinggi-tingginya juga selalu diberikan PWI terhadap mereka. Para wartawan senior adalah mahaguru bagi wartawan-wartawan pemula. Karena itu, mereka juga akan diajukan sebagai pengajar di SJI nanti. Apalagi, sekira 60% pengajar di SJI masih berasal dari Jakarta. Sehingga, kami sangat membutuhkan partisipasi wartawan senior untuk membimbing dan mengayomi wartawan pemula yang masih baru menjalani profesi di bidang jurnalistik. ()