Minggu, 09 Januari 2011

Infinitum, Novel Penggugat Realita Kehidupan

Infinitum, Novel Penggugat Realita Kehidupan

Harian Fajar, Makassar
Minggu, 9 Januari 2011
http://metronews.fajar.co.id/read/113508/61/infinitum-novel-penggugat-realita-kehidupan


Keterangan gambar: Ahyar Anwar

MAKASSAR--Sebuah novel mengenai realitas kehidupan bisa dinikmati warga Makassar. Judulnya,  Infinitum. Novel karya dosen sosiologi, filsafat, dan sastra Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr Ahyar Anwar, SS MSi ini berusaha menggugat realita kehidupan.


Novel yang dicetak 3.000 eksamplar ini diluncurkan, 6 Januari lalu di aula gedung PWI Sulsel, Jl AP Pettarani. Peluncuran yang dirangkaikan pagelaran seni mahasiswa UNM ini dihadiri budayawan, Udhin Palisuri dan sastrawan, Aan Mansyur.

Ahyar mengatakan, novel ini mencoba membongkar kebenaran yang menjadi acuan masyarakat dalam hal ini bukan kebenaran sebagai esensi. Artinya orangtua, atau keluarga, menginginkan anak perempuannya menikah dengan orang yang sudah mapan dan bisa hidup normal sesuai logika kebenaran masyarakat.

"Ini benar sebagai tujuan tapi tidak tahu apakah dengan hidup seperti itu anaknya akan bahagia atau tidak. Saya membedakan kebenaran sebagai tujuan dan kebenaran sebagai esensi. Dalam novel ini menjelaskan bahwa masyarakat lebih mengutamakan kebenaran sebagai tujuan. Artinya kalau ada yang mengatakan bahwa saya mencintai itu, itu tak cukup. Karena Anda sedang berbicara esensi," kata jebolan Filsafat Universitas Gajah Mada ini.

"Novel ini menggugat realitas kehidupan demikian. Saya merasa Anda hidup dalam sebuah kehidupan yang fiksi sebenarnya. Dan novel ini menceritakan kehidupan yang sebenarnya," sambung pria kelahiran 1970 ini.

Banyak tokoh dan kisah dalam novel ini. Berbeda dengan novel lainnya, novel ini tidak menampilkan tokoh utama.

"Ada kisah tentang perempuan yang bermain biola. Ini novel yang pertama dari tiga novel yang telah saya tulis. Khusus novel ini, saya kerja sebulan, saat Ramadan lalu," kata Ahyar yang Februari mendatang kembali akan melaunching novel keduanya, Sarah.

Ahyar mengaku berpikir panjang sebelum memulai menulis.

"Saya memikirkan bagaimana menulis sebuah novel versi baru. Dan saya menyatakan kehidupan kita sebenarnya tersusun dari peristiwa-peristiwa yang tidak saling tahu. Tapi jika dikumpulkan akan menjadi sebuah kehidupan. Artinya, Tuhan tidak pernah memberikan skenario kehidupan ini, dia hanya memberikan peran masing-masing tapi jika terlibat dalam sebuah realitas, maka itulah kehidupan," jelas doktor alumni Ilmu Sastra UGM ini.

Infinitum diambil sebagai judul karena novel ini menceritakan perulangan dalam kehidupan.

"Itu dari bahasa latin yang artinya berulang," katanya.

Aan Mansyur mengatakan, novel ini bagus. Cerita yang ditampilkan sangat menarik.

"Cinta itu justru luka dalam novel ini. Novel ini tragedi yang punya lapisan makna begitu banyak," ujar Aan. (amr)

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, kritikan, dan saran anda di blog http://pwi-sulsel.blogspot.com]

2 komentar:

kuswati neneng mengatakan...

bisa di order tidak novelnya?

Tabloid LINTAS - Makassar mengatakan...

mdh2an dibaca oleh yg bisa melayani orderan....