Langsung ke konten utama

Reuni Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat



REUNI. Puluhan mantan wartawan dan mantan karyawan Harian Pedoman Rakyat, Makassar, mengadakan reuni di Makassar, Selasa, 21 Oktober 2014. Reuni diadakan sekalian membicarakan kemungkinan pemberian pesangon dari para pemegang saham. (ist)




-----------------------


Reuni Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat


Setelah cukup lama tidak pernah lagi berkumpul dalam jumlah lebih dari 20 orang, mantan wartawan dan mantan karyawan Harian Pedoman Rakyat, Makassar, akhirnya berkumpul kembali dalam sebuah acara reuni.

Reuni diadakan di rumah Ibu Eka, di Jalan Cenderawasih Makassar, Selasa, 21 Oktober 2014. Mantan wartawan dan mantan karyawan yang hadir (termasuk sebagian di antaranya diwakili atau membawa keluarganya) berjumlah kurang lebih 30 orang.

Mantan wartawan yang hadir antara lain Verdy R Baso (76), Ardhy M Bashir, Khairil, Mahyudin, Jurlan, Asnawin, Haluddin Ma'waleda, Syarifuddin Pattisahusiwa, Muhammad Rusli, dan Wahyudin, sedangkan mantan karyawan yang hadir antara lain Sularso (82), Mustari, Syukri, Abdul Malik, Safri, Yusuf Siradjang, H Arief, Darwis (Gogo), Danial, Arif Rombo, Munir, Boni, dan Ahmad.

Dalam acara reuni itu, mantan wartawan dan mantan karyawan Pedoman Rakyat juga membicarakan kemungkinan mendapatkan pesangon dari para pemegang saham, karena sejak Pedoman Rakyat tidak terbit lagi pada 2007, para pemegang saham belum pernah bertemu dan belum menyepakati masalah pembayaran pesangon kepada para mantan wartawan dan mantan karyawan.

"Kami berharap hak-hak mantan wartawan dan mantan karyawan harian Pedoman Rakyat dapat dipenuhi oleh para pemegang saham," kata Verdy R Baso.

Selain membicarakan masalah pesangon, para mantan wartawan dan mantan karyawan juga mengenang dan mendoakan wartawan dan karyawan yang telah meninggal dunia.

Mereka antara lain LE Manuhua (25 November 2003), LF Sahertian (karyawan/25 Juli 2009), Buce Rompas (4 November 2009), JB Pinontoan (mantan Direktur Utama PT Media Pedoman Jaya, 19 April 2010), Abdul Djabbar Pattisahusiwa (wartawan, 8 November 2010), Petrus Beda (2010), Alex Wacanno (wartawan, 29 September 2011), Usman Sanaki (karyawan), Jamaluddin Yunus (wartawan), Indarto (wartawan, 10 Mei 2009), Arthur Kuse (wartawan), Hasanuddin "Hanter" (wartawan), dan Elvianus Kawengian (wartawan). (win)

-----------------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sulsel Miliki 76 Media Cetak, 28 Radio, dan 3 Televisi Lokal

BUKU ''Data Pers Nasional 2010'' memuat data media cetak dan media elektronik seluruh Indonesia. Di Sulsel, media cetak harian 8 (delapan), media cetak mingguan 33, dan media cetak bulanan 32. Media pers radio di Sulsel tercatat sebanyak 28, sedangkan stasiun televisi 3 (tiga), yakni Fajar TV, Makassar TV, dan Mitra TV. (int)

Makna Lambang PWI

LAMBANG PWI memiliki warna dasar hitam dan berbentuk segi lima, yang melambangkan rangka yang menjadi dasar landasan idiil, yakni Pancasila. Bentuk bagian luar berwarna biru, dengan rangkaian kapas dan padi melambangkan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran yang diperjuangkan oleh organisasi (warna kuning mas). (int)

Tiga Pertanyaan Sebelum Menulis Feature

DIKLAT JURNALISTIK. Direktur Perpustakaan Pers PWI Sulsel, Asnawin Aminuddin, membawakan dua materi, yakni "Memahami dan Menulis Berita" dan "Teknik Menulis Feature", pada Diklat Jurnalistik Pelajar SLTA se-Kabupaten Bulukumba, di SMA Negeri 1 Bulukumba, Selasa, 25 Juni 2013. (ist)