Asia Ramli Prapanca (kanan) tampil sebagai
pembicara dalam Diskusi Buku Kumpulan Cerpen “Ibu”, karya Anggota IPMI, dan
Buku Kumpulan Cerpen “Ibu, Gaib!” karya Muhammad Amir Jaya (kiri), yang
dirangkaikan dengan Peringatan HUT Ke-3 Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI),
di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No 2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025. (Foto:
Asnawin Aminuddin)
-----
Selasa, 13 Januari 2026
Catatan HUT Ke-3 IPMI dan Diskusi Buku
Kumpulan Cerpen “Ibu” (4):
Pesan-pesan Moral
dalam Kumpulan Cerpen “IBU”
Oleh: Asnawin Aminuddin
Asia Ramli Prapanca tampil dengan penuh
semangat dan sangat total sebagai pembicara dalam Diskusi Buku Kumpulan Cerpen
“Ibu”, karya Anggota IPMI, dan Buku Kumpulan Cerpen “Ibu, Gaib!” karya Muhammad
Amir Jaya, yang dirangkaikan dengan Peringatan HUT Ke-3 Ikatan Penulis Muslim
Indonesia (IPMI), di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No 2, Makassar, Rabu, 24
Desember 2025.
Seniman, budayawan dan akademisi itu
tampil sebagai pembicara bersama Anil Hukma (penyair, akademisi), dan Irwan AT
(seniman, wartawan), yang dipandu oleh Damar I Manakku (penulis).
Totalitas Ram Prapanca, sapaan akrab Dr.
Asia Ramli Prapanca, terlihat dari banyaknya catatan yang ia buat, bahkan semua
cerpen ia buat catatannya dengan judul: “Melacak Pesan Moral Kumpulan Cerpen
Ibu.”
Sayangnya, tidak semua catatannya ia
bacakan karena tidak semua penulis cerpen hadir dalam diskusi tersebut. Ram
hanya membacakan catatannya terhadap cerpen yang penulisnya hadir dalam
diskusi.
Salah satu cerpen yang ia komentari yaitu
cerpen berjudul: “Ratmini”, karya Andi Wanua Tangke. Ram mengatakan, cerpen
“Ratmini” mengangkat tema luka sejarah dan dampak kemanusiaan dari peristiwa
politik masa lalu di Indonesia.
“Cerpen ini mengisahkan Ratmini yang
ditangkap puluhan pemuda desa karena dituduh sebagai penjahat politik, sebagai
anggota Gerwani. Sundari, anak Ratmini, ingin membawa anaknya, Endang (cucu
Ratmini), pergi menziarahi kuburan neneknya, Ratmini. Tapi Sundari tidak tahu:
di mana kuburan ibunya?” kata Ram.
Pesan yang paling menonjol adalah
bagaimana peristiwa politik tidak hanya berdampak pada mereka yang mengalaminya
secara langsung, tetapi juga “diwariskan” kepada anak cucu. Pencarian Sundari
akan makam ibunya menunjukkan kerinduan akan identitas dan kebenaran yang
terputus oleh stigma sejarah.
“Kisah Ratmini yang ditangkap oleh puluhan
pemuda desa tanpa proses hukum yang jelas menggambarkan betapa mengerikannya
efek stigma politik. Pesan ini mengingatkan pembaca tentang bahaya fanatisme
dan bagaimana kemanusiaan sering kali hilang ketika seseorang sudah diberi
label ‘musuh negara’ atau ‘penjahat politik’,” tutur Ram.
Ketidaktahuan Sundari tentang lokasi
kuburan ibunya adalah simbol dari sejarah yang digelapkan. Penulis ingin
menyampaikan bahwa tanpa kejelasan sejarah dan pengakuan atas apa yang terjadi
di masa lalu, generasi berikutnya akan terus hidup dalam ketidakpastian dan
beban emosional yang tak kunjung usai.
“Pesan utama dari cerpen ini adalah ajakan
untuk berempati terhadap para korban sejarah yang sering kali terlupakan dan
terpinggirkan. Cerpen ini menekankan bahwa setiap manusia berhak atas martabat,
bahkan dalam kematiannya, dan bahwa luka masa lalu perlu disembuhkan melalui
kebenaran, bukan penyangkalan,” tandas Ram.
Bayang Kenangan di Langit Biru
Ram juga mengomentari cerpen: “Bayang
Kenangan di Langit Biru” karya Yudhistira Sukatanya. Cerpen ini dinilai
memiliki pesan yang sangat mendalam tentang kasih sayang, nilai keluarga, dan
cara menghadapi kehilangan.
“Pesan utama cerpen ini adalah bagaimana
seorang ibu menjadi pusat kebahagiaan dan keteraturan dalam keluarga. Ibu
digambarkan sebagai sosok yang penuh persiapan (sigap), perhatian terhadap
detail (kebersihan rumah, makanan kesukaan anak), dan penjaga tradisi.
Kepergian ibu meninggalkan lubang besar karena dialah yang biasanya
menghidupkan suasana rumah,” papar Ram.
Melalui kutipan pappasang (pesan leluhur)
Makassar: “Jaga bajiki andellekanna atinnu...”, penulis ingin menyampaikan
bahwa segala tingkah laku manusia bermuara dari niat hati. Jika hati baik, maka
hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia pun akan baik.
“Ini adalah warisan nilai moral yang lebih
berharga daripada harta benda,” kata Ram.
Penulis menekankan bahwa kesabaran adalah
sebuah keterampilan spiritual yang harus dilatih. Melalui nasihat ibu dari
Qur’an Surah Al-Baqarah, ayat 153, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa
dalam menanti atau menghadapi ujian (termasuk kematian), sabar dan shalat
adalah penolong yang utama.
Meskipun ibu telah tiada, kasih sayangnya
tetap hidup dalam ingatan melalui simbol-simbol sederhana: Langit Biru: Sebagai
simbol harapan dan kehadiran ibu. Aroma (Parfum Al Taj): Bagaimana kenangan
bisa dipicu oleh indra penciuman. Batuk Kecil: Simbol teguran lembut yang penuh
kasih, bukan kemarahan.
“Cerpen ini mengingatkan pembaca untuk
menghargai setiap momen bersama orang tua selagi mereka masih ada. Tokoh utama
merasakan ‘detak waktu yang merangkak’ dan kesedihan yang tajam saat menyadari
bahwa kepulangan saudara-saudaranya kali ini bukan untuk disambut oleh ibu,
melainkan untuk mendoakan kepergiannya,” urai Ram.
Pesan cerpen ini adalah ajakan untuk
merawat kenangan baik, mempraktikkan kesabaran, dan menjaga kemurnian hati
sebagaimana yang diajarkan oleh orang tua.
“Ia juga menjadi pengingat bahwa doa
adalah satu-satunya ‘jembatan’ yang tersisa untuk menghubungkan kita dengan
orang tua yang telah tiada,” kata Ram. (bersambung)
-----
Tulisan Bagian ke-3: Cerpen yang Tidak Lazim dan Nyentrik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar