Rabu, 13 Oktober 2010

PWI Ajak Wartawan Taati KEJ soal Cabul


Pemimpin Redaksi Majalah Playboy edisi Indonesia, Erwin Arnada. (foto: Bian Harnansa/Tribunnews.com)



PWI Ajak Wartawan Taati KEJ soal Cabul

Harian Kompas, Jakarta
Senin, 11 Oktober 2010
http://nasional.kompas.com/read/2010/10/11/19224597/PWI.Ajak.Wartawan.Taati.KEJ.soal.Cabul

JAKARTA, KOMPAS.com — Persatuan Wartawan Indonesia menghormati dan mengajak wartawan menaati Kode Etik Jurnalistik, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, dan ketentuan hukum yang melarang media pers menyiarkan hal cabul atau pornografi.

Perusahaan pers diharapkan semakin meningkatkan kompetensi pengelolaan media dan wartawannya, khususnya terkait dengan kepekaan terhadap norma sosial yang berlaku di masyarakat dan pemahaman aturan hukum terkait dengan media.

"Kami mengajak wartawan Indonesia menaati kode etik dan ketentuan hukum melarang media menyiarkan hal cabul," kata Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Margiono dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (11/10/2010).

Hal tersebut merupakan pernyataan sikap PWI terkait penahanan Erwin Arnada selaku Pemimpin Redaksi Majalah Playboy Indonesia, majalah yang sudah tidak terbit lagi, setelah keluarnya keputusan tetap dari Mahkamah Agung.

Menurut Margiono, PWI secara prinsip menentang kriminalisasi pers, yaitu menghukum wartawan yang menghasilkan karya jurnalistik tanpa menggunakan landasan hukum UU No 40/1990.

Pernyataan sikap lain adalah PWI mengharapkan perusahaan pers semakin meningkatkan kompetensi pengelolaan media dan wartawannya, khususnya terkait dengan kepekaan terhadap norma sosial yang berlaku di masyarakat dan pemahaman mengenai aturan hukum terkait dengan media.

Butir pernyataan sikap lain adalah PWI mamandang Dewan Pers perlu mengeluarkan fatwa tentang eksistensi majalah Playboy, apakah majalah ini merupakan media pers, media nonpers, atau media pornografi yang tidak lepas dari kepentingan Playboy Internasional.

Terbitnya majalah ini telah menimbulkan protes dari berbagai kelompok masyarakat, baik para tokoh agama, maupun tokoh kebudayaan dan sosial, karena tipe majalah ini bertentangan dengan tata krama kehidupan bangsa Indonesia.

Selasa, 12 Oktober 2010

Suksesi PWI Sulsel

Suksesi PWI Sulsel:
Kubu Zulkifli Klaim Bakal Raih 70 Persen Suara


Kamis, 30 Sep 2010 22:08 AM
http://indotim-news.com/isi_berita.php?&id=8238

Makassar. Jelang pemilihan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel, 30 Oktober 2010, tim sukses Zulkifli Gani Ottoh, yang akan kembali memperjuangkan incumben ini, optimis meraih suara 70 persen.

Ketua Tim Sukses Zulkifli Gani Ottoh, Rifai Manangkasi menganggap PWI ke depan masih butuh sosok ketua yang punya kekuatan dan pengaruh. Jika tidak, menurutnya, maka organisasi ini akan terkebelakang.

"Kita masih butuh sosok beliau yang punya kharisma dan punya kekuatan yang bisa diandalkan. Jadi kami sangat optimis akan didukung 70 persen pemilih," ucap Rifai, Jumat (1/10).

Terkait isu intervensi melalui pernyataannya terhadap perilaku wartawan di lapangan, diakuinya sebagai wujud untuk meningkatkan profesionalisme juru warta yang bergabung di organisasi ini.

"2013 kita akan menghadapi standar kompetensi wartawan. Karena itu, sosok incumbent ini bakal memperkuat citra wartawan, khususnya PWI Sulsel. Kalau bukan beliau siapa lagi?," tambah Rifai. (Zulkifli Mali)

PWI Sulsel Buka Sekolah Jurnalistik Indonesia


Zulkifli Gani Ottoh




PWI Sulsel Buka Sekolah Jurnalistik Indonesia

Harian Fajar, Makassar
Rabu, 13 Oktober 2010
http://metronews.fajar.co.id/read/107266/61/pwi-sulsel-buka-sji

MAKASSAR -- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel menggagas pelaksanaan program Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI). Program hasil kerja sama PWI pusat dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel ini akan dibuka di Makassar mulai 30 Oktober mendatang.

Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh kepada FAJAR, Selasa, 12 Oktober menjelaskan, SJI ini adalah program nasional yang akan dijalankan di Sulsel setelah Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Kalimanta Timur.

"Kita mendapat giliran keempat. Diharapkan dari sekolah ini mendapatkan jurnalis yang andal dalam menjalankan profesinya," kata Zulkifli.

Menurut rencana, SJI ini akan dibuka Mendiknas, Mohammad Nuh, dan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo sekaligus memberikan kuliah perdana. Adapun tujuan penyelenggaraan pendidikan ini, kata Zul, mengacu kepada Piagam Palembang saat peringatan Hari Pers Nasional 2009 lalu. Salah satu isinya, semua perusahaan pers tahun 2012 harus lolos verifikasi Dewan Pers Nasional.

Wartawannya harus mendapat jaminan masa depan, dan standarisasi perusahaan pers harus dipenuhi. Nah, untuk mewujudkan itu semua, perlu ada pendidikan, terutama menyentuh para jurnalis.

"Karena ini program nasional, diharapkan pimpinan redaksi semua media di Sulsel mengirimkan wartawannya mengikuti SJI. Program ini sangat penting untuk mewujudkan jurnalis yang andal. Kami percaya pendidikanlah yang membuat wartawan bisa andal," tegasnya.

Sistem SJI sama dengan kuliah di perguruan tinggi lain. Setiap hari harus bertatap muka dan mendapat materi perkuliahan. Bedanya, mereka bisa kembali bekerja rutin di kantornya setelah mengikuti materi pendidikan kira-kira hingga pukul 13.00 Wita. Yang menarik karena mereka yang ikut akan mendapatkan uang saku dan uang transportasi.

Zul membeberkan, syaratnya untuk ikut, wartawan memiliki pengalaman kerja minimal dua tahun dan telah mengantongi ijazah minimal diploma tiga. Paling penting harus mendapat rekomendasi dari media di mana dia bekerja.

Program SJI Palembang salah satu contoh sukses yang ingin ditiru PWI Sulsel. Angkatan pertama yang kuliah perdananya dibuka Presiden RI SBY diikuti 29 siswa, berhasil meluluskan 22 siswa. Angkatan II diikuti 28 siswa yang lulus 23 dan angkatan III diikuti 26 siswa yg lulus 23 orang. Di Palembang, kemitraan dengan pemerintah setempat sangat banyak mensupport suksesnya SJI.

Adapun materi, hampir sama dengan angkatan sebelumnya di provinsi lain. Pemateri dominan dari Jakarta sekira 60 persen, selebihnya 40 persen lokal Sulsel, terdiri dari tokoh pers, praktisi media dan akademisi. (aci)

Tidur di Losmen Tua

Safari Jurnalistik PWI-Pemprov Sulsel:
Tidur di Losmen Tua


Setelah mengunjungi dan berdialog dengan Pemkab Gowa, Pemkab Bantaeng, dan Pemkab Sinjai, Rabu, 4 Oktober 2010, rombongan tim Safari Jurnalistik PWI Sulsel-Pemprov Sulsel, akhirnya tiba di Bone, Kamis dini hari, 5 Oktober 2010, sekitar pukul 00.30 Wita.

Setiba di Bone, ternyata tuan rumah Pemkab Bone hanya menyiapkan dua penginapan yang berdekatan di Jalan Mesjid, karena mereka mengira jumlah anggota rombongan hanya berkisar 20 orang.

Malam itu, pengurus PWI Perwakilan Bone bersama staf Pemkab Bone terpaksa mencari penginapan tambahan. Alhasil, seluruh anggota rombongan baru mendapatkan penginapan pada sekitar pukul 02.30 Wita.

Sekitar 20 anggota rombongan menginap di losmen tua yakni Losmen Nasional. Dari arsitektur bangunannya saja sudah terlihat dengan jelas bahwa gedung losmen tersebut merupakan gedung tua, apalagi pencahayaan di bagian luar juga kurang terang, sehingga kesan seram cukup terasa.

Beberapa anggota rombongan baru bisa tidur sekitar pukul 03.00 Wita, tetapi sebagian lainnya sudah langsung tidur sesaat setelah masuk ke losmen tersebut. Beberapa anggota rombongan mengatakan, kalau memang sudah ngantuk, tidur saja, tidak usah berpikir macam-macam. (asnawin)

Senin, 11 Oktober 2010

Wakil Bupati Maros Terima Wartawan PWI

Wakil Bupati Maros Terima Wartawan PWI

Laporan: Rasmi Rijang Sikati
Inka/Tribun

Senin, 11 Oktober 2010

MAROS, TRIBUN-TIMUR.COM -- Wakil Bupati Maros HA Harmil Mattotorang berdialog dengan sekitar lima puluhan wartawan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel.

Dialog ini berlangsung saat Harmil menerima rombongan Safari Jurnalistik PWI Sulsel di Ruang Rapat Kantor Bupati Maros.

Kunjungan empatpuluhan wartawan, pimpinan media, dan pengurus PWI Sulsel peserta Safari Jurnalistik PWI Sulsel yang dipimpin Ketua Dewan Pembina PWI Sulsel Dahlan Kadir ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program pendidikan dan kesehatan gratis di Kabupaten Maros sebagai salah satu program Pemerintah Provinsi Sulsel.

Minggu, 10 Oktober 2010

Safari Jurnalistik PWI Sulsel Berkunjung Ke Palopo

Safari Jurnalistik PWI Sulsel Berkunjung Ke Palopo

http://www.palopokota.go.id/?page=detilberita&bid=2446
Palopo Online

Sebanyak 65 orang yang tergabung dalam tim Safari Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan (Sulsel) bekerja-sama Pemerintah Provinsi Sulsel berkunjung ke Kota Palopo, Jumat, 8 Oktober 2010.

Selain Palopo, mereka juga mengunjungi Gowa, Bantaeng, Sinjai, Bone, Wajo, Luwu, Toraja Utara, Tana Toraja, Enrekang, Pinrang, Parepare, Pangkep, dan Maros.

Kunjungan mereka ke Palopo diterima oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palopo, HM Jaya di ruang operation room Kantor Walikota Palopo, yang turut dihadiri Direktur RSUD Sawergading Palopo, dr Rusdi, Kepala Dinas Kesehatan Palopo, dr Thamrin Jufri, dan sekretaris dinas pendidikan Palopo, Muhammad Yamin.

Menurut Ketua PWI Sul Sel, Zulkifli Gani Ottoh, kunjungan itu bermaksud untuk memantau dan mengawasi pelaksanaan program Pendidikan dan Kesehatan gratis di Kota Palopo. Sementara Sekda dalam sambutan penerimaan mengatakan kalau program pendidikan dan kesehatan gratis yang dilaksanakan pemerintah Sulsel, telah diterapkan dengan baik di Kota Palopo.

Bahkan menurut Sekda, program Pendidikan dan Kesehatan gratis di Kota Palopo, bukan hanya dinikmati oleh warga Palopo, namun juga dinikmati oleh warga kabupaten tetangga yang bersekolah dan berobat gratis di Palopo. Pasalnya, Palopo merupakan daerah tujuan pendidikan dan rujukan dari rumah sakit tetangga. (her)